JAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta meminta masyarakat mewaspadai potensi tanah longsor di 10 kecamatan Jakarta Selatan dan Jakarta Timur sepanjang September 2025.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji menjelaskan, peta potensi gerakan tanah disusun berdasarkan tumpang susun (overlay) antara zona kerentanan gerakan tanah dengan prakiraan curah hujan bulanan.
“Menurut informasi dari PVMBG, beberapa wilayah DKI Jakarta berada di zona menengah. Pada zona ini, gerakan tanah dapat terjadi jika curah hujan di atas normal, terutama di daerah dekat lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau lereng yang terganggu,” kata Isnawa, Jumat, 12 September.
Ia menambahkan, pada zona tinggi, gerakan tanah lama bahkan bisa aktif kembali. Karena itu, lurah, camat, dan masyarakat diminta tetap mengantisipasi potensi longsor pada saat hujan deras.
BACA JUGA:
Selain ancaman longsor, Isnawa juga mengingatkan risiko bangunan roboh saat musim hujan akibat hujan lebat dan angin kencang. Kondisi ini diperparah bila ada pergeseran tanah.
“Masyarakat perlu memperhatikan kondisi bangunan, terutama yang tua atau rusak, dan segera memperkuat strukturnya agar tidak menimbulkan bahaya,” ujarnya.
Adapun 10 kecamatan yang berpotensi mengalami gerakan tanah pada September 2025, yakni:
1. Cilandak, Jakarta Selatan
2. Jagakarsa, Jakarta Selatan
3. Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
4. Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
5. Mampang Prapatan, Jakarta Selatan
6. Pancoran, Jakarta Selatan
7. Pasar Minggu, Jakarta Selatan
8. Pesanggrahan, Jakarta Selatan
9. Kramat Jati, Jakarta Timur
10. Pasar Rebo, Jakarta Timur