Bagikan:

JAKARTA - Moskow memperkirakan perundingan antara Rusia dan Ukraina akan berlanjut, tetapi "realitas teritorial baru" harus diakui dan sistem jaminan keamanan baru dibentuk, kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dalam pernyataan yang dipublikasikan pada Hari Rabu.

Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan puluhan ribu tentara untuk menginvasi Ukraina pada Februari 2022 setelah delapan tahun pertempuran di Ukraina timur antara separatis yang didukung Rusia dan pasukan Ukraina. Rusia kini menguasai kurang dari seperlima wilayah Ukraina.

"Agar perdamaian dapat langgeng, realitas teritorial baru harus diakui dan diformalkan dalam ketentuan hukum internasional," kata Menlu Lavrov dalam wawancara dengan surat kabar Kompas Indonesia, menurut transkrip yang tersedia di situs web Kementerian Luar Negeri Rusia, dikutip dari Reuters 3 September.

"Sistem jaminan keamanan baru untuk Rusia dan Ukraina harus dibentuk sebagai elemen integral dari arsitektur pan-benua dengan keamanan yang setara dan tak terpisahkan di Eurasia," lanjutnya.

Merujuk secara tidak langsung pada penolakan Moskow yang terus berlanjut terhadap Ukraina yang bergabung dengan NATO, Menlu Lavrov mengatakan "Ukraina harus dijamin status netral, non-blok, dan non-nuklir."

Ukraina mengatakan, Rusia yang berhak memutuskan apakah Kyiv dapat atau tidak bergabung, sementara NATO mengatakan Rusia tidak dapat memiliki hak veto atas keanggotaan aliansi yang dibentuk pada tahun 1949 untuk melawan ancaman Uni Soviet.

Presiden AS Donald Trump, yang mengadakan pertemuan puncak dengan Presiden Putin di Alaska pada pertengahan Agustus dan kemudian bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan para pemimpin utama aliansi Eropa dan NATO di Gedung Putih dalam upaya mengakhiri perang, mengatakan pada Hari Selasa Ia "sangat kecewa" dengan Pemimpin Rusia tersebut.

Presiden Trump memperkirakan Presiden Zelensky dan Presiden Putin akan bertemu setelah pertemuan puncak tersebut. Presiden Zelensky mengatakan Rusia sedang melakukan segala yang dapat dilakukan untuk mencegah pertemuan tersebut, sementara Rusia mengatakan agenda untuk pertemuan semacam itu belum siap.

Menlu Lavrov mengatakan para kepala delegasi Rusia dan Ukraina telah melakukan kontak langsung.

"Kami berharap perundingan akan terus berlanjut," kata Menlu Lavrov.