Bagikan:

JAKARTA - Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, Ankara sedang berupaya mencapai akhir yang adil dan langgeng bagi perang di Ukraina.

"Perundingan antara kedua pihak di Istanbul berkontribusi pada upaya perdamaian,” demikian pernyataan kepresidenan Turki dilansir Reuters, Senin, 1 September.

Dalam pertemuan di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di China, Erdogan dan Putin juga membahas hubungan bilateral, upaya perdamaian antara Azerbaijan dan Armenia, serangan Israel di Gaza, dan perkembangan di Suriah, demikian pernyataan kepresidenan.

Putin, setelah berbincang dengan Presiden China Xi Jinping dan PM India Narendra Modi mengatakan isu perluasan NATO ke arah timur harus ditangani agar perdamaian berkelanjutan di Ukraina dapat terwujud.

Putin memerintahkan puluhan ribu pasukan untuk menginvasi Ukraina pada Februari 2022 setelah delapan tahun pertempuran di Ukraina timur antara separatis yang didukung Rusia dan pasukan Ukraina. Rusia saat ini menguasai kurang dari seperlima wilayah Ukraina.

Ukraina dan negara-negara Eropa Barat menggambarkan invasi tersebut sebagai perampasan tanah brutal ala kekaisaran.

Putin menggambarkan perang tersebut sebagai pertempuran melawan Barat yang sedang melemah, yang menurutnya telah mempermalukan Rusia setelah runtuhnya Tembok Berlin pada tahun 1989 dengan memperluas NATO ke arah timur.

Di sela-sela pertemuan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Tianjin, Modi memegang tangan Putin saat mereka berjalan menuju Presiden Tiongkok Xi Jinping. Ketiganya tersenyum saat berbicara, dikelilingi oleh para penerjemah.

Berbicara di pertemuan puncak tersebut, Putin mengatakan Barat telah mencoba membawa Ukraina ke dalam orbit Barat dan kemudian berusaha membujuk bekas republik Soviet itu untuk bergabung dengan aliansi militer NATO yang dipimpin AS.

"Agar penyelesaian Ukraina berkelanjutan dan berjangka panjang, akar penyebab krisis, yang baru saja saya sebutkan dan yang telah berulang kali saya sebutkan sebelumnya, harus dihilangkan," kata Putin dilansir Reuters, Senin, 1 Septmber.

"Keseimbangan yang adil di bidang keamanan" juga harus dipulihkan, kata Putin, singkatan dari serangkaian tuntutan Rusia terkait keamanan NATO dan Eropa.