JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan siap menjatuhkan sanksi terhadap Rusia, jika Presiden Vladimir Putin gagal menyetujui gencatan senjata, namun tidak menginginkan perang ekonomi.
"Apa yang saya pikirkan sangat, sangat serius, jika saya harus melakukannya, tetapi saya ingin melihatnya berakhir," kata Presiden Trump menjawab pertanyaan apakan Presiden Putin akan menghadapi konsekuensinya, seperti melansir Reuters 27 Agustus.
"Kita memiliki sanksi ekonomi. Saya berbicara tentang ekonomi karena kita tidak akan terlibat dalam perang dunia," tandasnya.
Presiden Trump menahan sanksi yang telah lama diancamkan terhadap Presiden Putin dalam upaya terbarunya untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun, yang sejauh ini telah menentang upaya mediasinya.
Presiden Trump mengupayakan perundingan empat mata antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Putin.
Meskipun Presiden Zelensky pada prinsipnya telah menyetujui perundingan tersebut, Presiden Putin belum. Kremlin telah mengisyaratkan bahwa pertemuan semacam itu saat ini belum direncanakan.
"Ini bukan perang dunia, tetapi perang ekonomi," kata Presiden Trump dalam rapat Kabinet Gedung Putih.
"Perang ekonomi akan berdampak buruk, dan akan berdampak buruk bagi Rusia, dan saya tidak menginginkan itu," tandasnya.
Ia menambahkan: "Zelensky juga tidak sepenuhnya tidak bersalah."
Meskipun kemajuan diplomatik lambat, para pejabat AS dan Eropa telah membahas potensi jaminan keamanan yang mungkin diberikan Washington kepada Kyiv setelah kesepakatan hipotetis tercapai, yang berpotensi mencakup dukungan melalui udara atau pembagian intelijen.
BACA JUGA:
Presiden Trump telah lama menyarankan penggunaan instrumen ekonomi sebagai daya ungkit terhadap negara-negara yang bertikai.
Ia bersiap untuk mengenakan tarif tambahan sebesar 25 persen pada ekspor India yang menuju AS pada Hari Rabu atas pembelian minyak Rusia oleh New Delhi.
Kemarin, Ia menyatakan terbuka untuk "menggunakan sistem tarif yang sangat kuat yang sangat merugikan Rusia atau Ukraina" untuk mencapai perdamaian.