JAKARTA - Thailand dan Kamboja masih saling tembak-menembak artileri berat pada Jumat saat pertempuran terburuk kedua negara dalam lebih dari satu dekade semakin intensif dan menyebar ke wilayah-wilayah baru.
Kedua belah pihak saling menyalahkan karena memulai konflik. Thailand menuduh Kamboja sengaja menargetkan warga sipil, sedangkan Kamboja menuduh Thailand menggunakan bom curah, persenjataan yang kontroversial dan dikutuk secara luas.
Penjabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, mengatakan Kamboja telah melancarkan serangan di berbagai front dan Thailand mempertahankan wilayahnya.
"Situasi saat ini melibatkan tindakan intrusi dan agresi yang membahayakan nyawa rakyat. Situasi telah meningkat dan dapat meningkat menjadi perang. Saat ini, ini adalah konfrontasi yang melibatkan senjata berat," ujarnya kepada wartawan dilansir Reuters, Jumat, 25 Juli.
Pertempuran kembali meletus sebelum matahari terbit, dengan bentrokan dilaporkan di 12 lokasi, naik dari enam lokasi pada Kamis, menurut militer Thailand.
Thailand menyebut Kamboja menggunakan artileri dan sistem roket BM-21 buatan Rusia untuk menargetkan area yang mencakup sekolah dan rumah sakit.
"Tindakan biadab ini telah merenggut nyawa dan melukai banyak warga sipil tak berdosa," kata militer Thailand.
Militer Thailand menyebut pemboman Kamboja sebagai "serangan mengerikan", dan menyalahkan pemerintah Phnom Penh, yang menurut mereka dipimpin oleh Hun Sen, mantan perdana menteri berpengaruh selama hampir empat dekade dan ayah dari Perdana Menteri Kamboja saat ini, Hun Manet.
"Penargetan warga sipil yang disengaja merupakan kejahatan perang, dan mereka yang bertanggung jawab harus diadili," sambung militer Thailand.