Bagikan:

JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher menanggapi pernyataan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN terkait tingginya angka fatherless atau kurangnya peran ayah dalam keluarga di Indonesia. Ia mendorong perusahaan atau tempat kerja untuk memberikan ruang bagi para ayah menghadiri momen penting keluarga. 

Netty menilai penguatan ketahanan keluarga sangat penting di tengah arus digitalisasi dan tuntutan ekonomi yang semakin kompleks.

“Isu fatherless selama ini seperti gunung es. Anak-anak kehilangan figur ayah bukan karena wafat atau cerai, tapi karena ayahnya terlalu sibuk bekerja, jauh dari kehidupan anak, atau menyerahkan semua urusan pengasuhan kepada ibu dan gawai,” ujar Netty, Rabu, 16 Juli. 

"Untuk itu, ketahanan keluarga harus terus dikokohkan, terlebih di tengah tantangan arus digitalisasi dan tuntutan ekonomi yang semakin komplek," sambungnya. 

Netty pun mendorong adanya langkah konkret lintas sektor dalam memperkuat peran ayah dalam pengasuhan anak. Hal ini penting untuk membangun hubungan antar individu di lingkungan keluarga. 

“Kita tidak hanya bicara tentang fatherless, tapi tentang keluarga yang kelelahan dan kehilangan makna saat membangun hubungan antar individu di dalamnya," kata Legislator dari Dapil Jawa Barat VIII itu. 

Menurut Netty, keterlibatan ayah sangat krusial dalam pembentukan karakter, kepercayaan diri, dan kesehatan mental anak. Ia menyebut, berbagai penelitian menunjukkan anak-anak yang dibesarkan dengan kehadiran ayah yang aktif tidak mudah terjerumus pada perilaku menyimpang.

“Jika kita ingin Indonesia Emas 2045 terwujud, maka kita harus pastikan anak-anak hari ini tidak tumbuh dengan luka batin dan kehilangan sosok ayah di rumahnya,” tegasnya.

Oleh karena itu, sebagai anggota Komisi di DPR yang membidangi urusan kependudukan dan keluarga, Netty meminta pemerintah untuk menerapkan kebijakan cuti ayah yang lebih fleksibel dan berpihak. 

"Ini agar ayah dapat terlibat dalam pengasuhan anak sejak awal," katanya.

Selain itu, Netty menilai, perlu adanya kampanye nasional terkait peran ayah. Kampanye ini, kata dia, perlu selalu digaungkan bukan hanya saat hari keluarga nasional atau hari pertama sekolah.

"Perusahaan dan instansi harus memberi keluasan waktu bagi para ayah di momen penting keluarga," tegasnya. 

"Pengasuhan anak dalam keluarga adalah kerja tim. Negara harus hadir memastikan ayah dan ibu mendapat ruang yang adil dalam berkontribusi membesarkan generasi yang sehat jiwa dan raganya,” tutup anggota Fraksi PKS DPR RI itu.  

Sebelumnya, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menggaungkan gerakan "ayah mengantar" pada hari pertama masuk sekolah, Senin, 14 Juli. Gerakan itu dibuat lantaran sebagian remaja di Indonesia disebut tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah atau fatherless. 

"Salah satu yang menjadi problem adalah 20,9 persen anak-anak remaja kehilangan sosok ayah atau disebut fatherless," ucap Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji.