JAKARTA - Kehadiran ayah dalam proses tumbuh kembang anak bukan hanya soal dukungan finansial, tetapi juga mencakup kedekatan emosional yang sangat berperan dalam pembentukan karakter anak.
Momen sederhana seperti bermain, berolahraga, atau berdiskusi bersama anak dapat menjadi ruang penting untuk membangun ikatan batin yang kuat. Ayah yang aktif berinteraksi dengan anak tidak hanya menciptakan kenangan positif, tetapi juga menanamkan rasa aman, percaya diri, dan kemampuan berpikir kritis sejak dini.
Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., menekankan pentingnya peran ayah dalam pembentukan daya tahan fisik dan mental anak.
Aa menyampaikan keterlibatan ayah secara langsung dalam aktivitas fisik bersama anak dapat berdampak signifikan pada perkembangan motorik dan juga kemampuan kognitif mereka.
"Anak-anak yang tumbuh dengan ayah yang aktif secara fisik cenderung lebih percaya diri dan mampu mengambil keputusan dengan lebih baik," jelas Novi seperti dikutip ANTARA.
Ia menambahkan aktivitas seperti olahraga bersama atau menjelajahi tantangan baru menjadi sarana alami untuk membangun ketangguhan dan kemampuan adaptif anak.
BACA JUGA:
Namun, menurutnya, kedekatan bukan hanya dibangun lewat gerakan fisik semata. Komunikasi yang bermakna, termasuk diskusi ringan maupun refleksi setelah kegiatan, juga menjadi bagian penting dari proses pengasuhan. Melalui percakapan yang terbuka, anak dapat memahami nilai-nilai hidup serta merasakan dukungan emosional yang kuat dari figur ayah.
Selain hubungan ayah dan anak, Novi menyoroti pula dampak hubungan antara ayah dan ibu yang disaksikan langsung oleh anak.
"Cara seorang ayah memperlakukan ibu akan menjadi cerminan bagi anak dalam menilai hubungan, rasa hormat, dan kehangatan keluarga," ungkapnya.
Relasi yang sehat dan saling menghargai antara kedua orang tua diyakini turut membentuk pandangan anak terhadap makna kasih sayang dan kerja sama dalam keluarga.
Fenomena "fatherless" atau minimnya keterlibatan ayah dalam kehidupan anak juga turut menjadi sorotan di Indonesia. Meski secara fisik hadir, banyak ayah tidak terlibat aktif secara emosional dan mental dalam kehidupan anak. Kondisi ini dipandang sebagai salah satu penyebab terganggunya proses tumbuh kembang anak, terutama dalam hal pembentukan karakter dan kestabilan emosi.
Sebagai langkah konkret, pemerintah melalui Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 7 Tahun 2025, meluncurkan program Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah. Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi untuk mendorong partisipasi lebih besar dari para ayah dalam pengasuhan anak.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menjelaskan bahwa gerakan tersebut menjadi simbol penting dari perubahan pola asuh dalam keluarga Indonesia. Ia menekankan program ini merupakan bagian dari inisiatif cepat (quick wins) bernama Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).
"Melalui gerakan ini, kita ingin menggeser budaya pengasuhan yang selama ini cenderung hanya bertumpu pada ibu, menjadi lebih kolaboratif antara ayah dan ibu. Ini adalah simbol transformasi peran ayah dalam keluarga Indonesia," tegas Wihaji.