JAKARTA - Bagi Rida Abu Hadayed, musim panas menambah penderitaanya berjuang untuk bertahan hidup sehari-hari di Jalur Gaza daerah korban agresi Israel.
Dengan suhu lebih dari 30 derajat celsius, fajar menyingsing kerap diiringi tangisan tujuh anak Hadayed yang kepanasan berada di tenda pengungsi berbahan nilon nan sempit.
Sementara di luar tenda, kelembapannya tak tertahankan.
Satu-satunya cara ibu berusia 32 tahun itu menenangkan anak-anaknya adalah dengan mengipasi mereka menggunakan nampan atau potongan kertas —apa pun yang dapat ia temukan.
Jika memiliki air, ia mencipratkannya ke bagian atas badan anak-anaknya. Namun sayang, air bersih menjadi sumber daya yang semakin langka di Jalur Gaza.
“Tidak ada listrik. Tidak ada apa-apa,” kata Hadayed yang wajahnya dipenuhi keringat, dikutip dari AP, Kamis 3 Juli.
“Mereka [anak-anak] tidak bisa tidur. Mereka terus menangis sepanjang hari hingga matahari terbenam,” sambungnya.
Panas terik di Gaza memperparah kesulitan yang dialami 2 juta penduduknya. Minimnya air bersih, jaringan sanitasi yang lumpuh, dan ruang hidup yang menyusut mengancam jiwa dan berpeluang menimbulkan penyakit cepat menyebar.
Musim panas yang terik bertepatan dengan krisis air bersih bagi banyak penduduk Gaza, yang sebagian besar mengungsi di tenda-tenda.
Banyak warga Palestina di daerah kantong pengungsi itu harus berjalan jauh untuk mengambil air dan setiap tetesnya dijatah. Kondisi tersebut membatasi kemampuan mereka untuk mencuci dan tetap sejuk.
"Kami baru saja memasuki musim panas," kata suami Hadayed, Yousef.
"Dan situasi kami mengerikan," lanjutnya.
Upaya Israel memblokir bantuan kemanusiaan masuk Gaza telah dilakukan selama hampir tiga bulan. Israel tidak memperbolehkan bantuan makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan banyak kebutuhan mahluk hidup diterima para pengungsi di Jalur Gaza.
Israel baru mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk Gaza pada akhir Mei 2025. Namun kini dengan aturan baru, kendali penuh pemberian bantuan dipegang oleh Israel dan AS.
Meski demikian, Israel dan AS masih menerapkan pemblokiran terhadap bahan bakar yang dibutuhkan untuk memompa air dari sumur atau mengoperasikan pabrik desalinasi di Gaza.
Menurut laporan terbaru Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), persediaan bahan bakar yang terbatas membuat hanya 40 persen fasilitas produksi air minum berfungsi di Jalur Gaza.
Kondisi menjadi semakin memburuk. Berdasarkan laporan OCHA yang diterbitkan bulan Juni 2025 itu, 93 persen rumah tangga di Gaza menghadapi kekurangan air.
Keluarga Hadayed terpaksa mengungsi setelah militer Israel memerintahkan untuk melakukan evakuasi meninggalkan kampung halamannya di Khan Younis bagian timur.
“Hidup kami di tenda sangat menyedihkan. Kami menghabiskan hari-hari dengan menyiramkan air ke kepala dan kulit mereka,” kata Yousef.
“Air sangat langka. Sangat sulit untuk mendapatkan air,” sambungnya.
Juru bicara UNICEF baru-baru ini mengatakan, jika pasokan bahan bakar tidak diizinkan masuk ke daerah kantong pengungsian itu, anak-anak akan mati kehausan.
“Saya dan anak-anak saya menghabiskan hari-hari kami dengan berkeringat,” kata Reham Abu Hadayed, 30 tahun, kerabat Rida Abu Hadayed yang juga mengungsi dari Khan Younis bagian timur.
Reham mengkhawatirkan kesehatan keempat anaknya. “Saya tidak punya cukup uang untuk membelikan mereka obat,” katanya.
Bagi Mohammed Al-Awini, 23 tahun, panas bukanlah hal paling buruk. Namun, kerumunan lalat dan nyamuk di tendanya, terutama di malam hari, menjadi momok paling mengganggu.
Tanpa jaringan pembuangan limbah yang memadai, sampah menumpuk di jalan di Jalur Gaza, mengundang serangga dan penyakit. Bau busuk sampah juga tercium di mana-mana.
“Kami terjaga sepanjang malam, sekarat karena gigitan nyamuk,” katanya. “Kami adalah orang-orang yang paling lelah di dunia,” lanjutnya.