Bagikan:

JAKARTA - Presiden Rusia Vladimir Putin mengaku tidak mengira para pemimpin Ukraina menginginkan perdamaian setelah Rusia menuduh Kyib memerintahkan serangan bom mematikan di Rusia yang menewaskan tujuh orang dan melukai 115 lainnya hanya sehari sebelum perundingan di Turki.

Jalan layang di atas jalur kereta api di wilayah Bryansk di Rusia barat diledakkan pada pukul 10.33 malam pada Sabtu malam tepat saat kereta penumpang yang membawa 388 penumpang ke Moskow lewat di bawahnya.

Penyelidik utama negara Rusia mengatakan Ukraina bertanggung jawab atas penanaman tiga bom dalam serangan jembatan Bryansk, lima bom dalam serangan terhadap jembatan di Kursk, dan serangan bom lainnya terhadap jembatan di Bryansk pada Minggu.

Dalam beberapa pernyataannya yang paling agresif dalam beberapa bulan terakhir tentang prospek perdamaian, Putin mengatakan serangan tersebut telah diarahkan terhadap warga sipil dan menuduh pimpinan Kyiv sebagai "organisasi teroris" yang didukung oleh kekuatan yang menjadi "kaki tangan teroris".

"Rezim Kyiv saat ini sama sekali tidak membutuhkan perdamaian," kata Putin dalam sebuah pertemuan dengan pejabat senior. "Apa yang perlu dibicarakan? Bagaimana kita bisa bernegosiasi dengan mereka yang mengandalkan teror?,” ujar Putin dilansir Reuters, Rabu, 4 Juni.

Ukraina belum mengomentari serangan jembatan tersebut. Negara itu membantah pihaknya menargetkan warga sipil, seperti halnya Rusia, meskipun warga sipil telah terbunuh oleh kedua belah pihak.

Kyiv juga menuduh Moskow tidak serius menginginkan perdamaian, dengan mengutip sebagai bukti perlawanan Rusia terhadap gencatan senjata segera.

Rusia mengatakan beberapa kondisi tertentu harus dipenuhi terlebih dahulu.

 

Dalam pernyataan yang dirilis oleh Kremlin, Putin tidak menyebutkan operasi besar Ukraina - yang berlangsung pada Minggu - untuk menyerang pesawat pembom strategis di pangkalan udara Rusia.

Serangan terhadap jalan layang dan pesawat pembom berkemampuan nuklir itu terjadi tepat sebelum Rusia dan Ukraina bertemu untuk perundingan perdamaian langsung di Istanbul, tempat Moskow mengemukakan apa yang disebut Amerika Serikat sebagai tujuan "maksimalis".

Putin menyarankan gencatan senjata hanya akan digunakan oleh Ukraina dan pendukung Baratnya untuk mempersenjatai kembali. Negosiator Rusia dalam perundingan itu mengatakan Ukraina telah menyerahkan kepadanya daftar 339 anak yang menurut Kyiv telah diculik oleh Moskow.