Bagikan:

JAKARTA - Lebih dari 30 warga Palestina tewas dan hampir 170 lainnya cedera di Gaza selatan dekat lokasi distribusi makanan pada Hari Minggu kata kementerian kesehatan, sementara para saksi melaporkan tentara Israel menembaki orang-orang yang mencoba mengumpulkan bantuan dan Israel membantahnya.

Para saksi mengatakan militer Israel melepaskan tembakan saat ribuan warga Palestina berkumpul untuk menerima bantuan makanan.

Sementara, militer Israel mengatakan penyelidikan awal menemukan tentara tidak menembaki warga sipil saat mereka berada di dekat atau di dalam lokasi distribusi.

Kementerian Kesehatan Gaza yang dikuasai Hamas mengatakan 31 orang tewas dengan satu luka tembak di kepala atau dada akibat tembakan Israel saat mereka berkumpul di area distribusi bantuan distrik Al-Alam di Rafah, sementara 169 orang lainnya orang terluka, dikutip dari Reuters 2 Juni.

Selain tembakan Israel, warga dan petugas medis mengatakan sebuah tank Israel telah menembaki ribuan orang dalam perjalanan ke lokasi Rafah.

Sementara itu, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengatakan rumah sakit lapangannya di Rafah menerima 179 korban, sebagian besar dengan luka tembak atau pecahan peluru.

"Semua pasien mengatakan mereka telah mencoba mencapai lokasi distribusi bantuan. Ini adalah jumlah tertinggi korban luka senjata dalam satu insiden sejak didirikannya rumah sakit lapangan lebih dari setahun yang lalu," kata ICRC.

Reda Abu Jazar mengatakan saudara laki-lakinya terbunuh saat dia menunggu untuk mengambil makanan di dekat pusat distribusi bantuan Rafah.

"Biarkan mereka menghentikan pembantaian ini, hentikan genosida ini. Mereka membunuh kita," katanya, saat orang-orang Palestina berkumpul untuk salat jenazah.

Terpisah, Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang berbasis di Amerika Serikat mengatakan, makanan dibagikan tanpa insiden pada Hari Minggu di titik distribusi di Rafah dan tidak ada kematian atau cedera.

GHF merilis video tanpa tanggal untuk mendukung pernyataannya yang memperlihatkan puluhan orang berkumpul di sekitar tumpukan kotak. Reuters tidak dapat memverifikasi video atau apa yang terjadi secara independen.

Bulan Sabit Merah melaporkan bahwa 14 warga Palestina terluka pada Hari Minggu di dekat lokasi bantuan GHF lainnya di Gaza tengah.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan sebagian besar dari 2 juta penduduk Gaza berisiko kelaparan setelah blokade Israel selama 11 minggu terhadap bantuan yang memasuki jalur tersebut.

GHF meluncurkan lokasi distribusi pertamanya minggu lalu dan mengatakan akan meluncurkan lebih banyak lagi. Militer Israel mengatakan GHF telah mendirikan empat lokasi sejauh ini.

Rencana bantuan organisasi tersebut, yang mengabaikan kelompok bantuan yang sejak lama berada di Gaza, mendapat kritik keras PBB dan organisasi kemanusiaan yang mengatakan GHF tidak mengikuti prinsip-prinsip kemanusiaan.

Sebelumnya, terjadi kekacauan saat warga Gaza yang kelaparan menyerbu lokasinya minggu lalu. Hamas melaporkan kematian dan cedera dalam kerusuhan itu, dengan Israel mengatakan pasukannya melepaskan tembakan peringatan.

Karena titik distribusi GHF sedikit dan semuanya berada di Gaza selatan, pejabat PBB mengatakan rencananya memaksa warga Palestina, terutama di utara, untuk pindah dan menghadapi kondisi yang tidak aman.

Diketahui, Israel menyangkal orang-orang di Gaza kelaparan karena tindakannya, dengan mengatakan mereka memfasilitasi pengiriman bantuan, menunjuk pada dukungannya terhadap pusat distribusi GHF yang baru dan persetujuannya bagi truk bantuan lainnya untuk memasuki Gaza.

Kemarin, sumber-sumber medis di Gaza mengonfirmasi, jumlah korban tewas Palestina sejak konflik pecah pada 7 Oktober 2023 telah mencapai 54.418 jiwa, sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak, sementara korban luka-luka mencapai 124.190 orang, dengan ribuan orang masih terjebak di bawah reruntuhan, dikutip dari WAFA.