JAKARTA - Warga Palestina di Gaza menunggu kedatangan bantuan pangan yang dijanjikan pada Rabu meskipun ada tekanan internasional dan domestik yang meningkat terhadap pemerintah Israel untuk mengizinkan lebih banyak bantuan untuk menjangkau penduduk yang berada di ambang kelaparan setelah blokade selama 11 minggu.
Menurut data militer Israel, kurang dari 100 truk bantuan telah memasuki Gaza sejak Senin, 19 Mei, ketika pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setuju untuk mencabut blokade yang telah memaksa warga Gaza berjuang mati-matian untuk bertahan hidup.
Dengan serangan udara dan tembakan tank yang terus menghantam hingga menewaskan puluhan orang pada Rabu, 21 Mei, para pembuat roti dan operator transportasi setempat mengatakan mereka belum melihat pasokan tepung dan kebutuhan pokok lainnya.
Abdel-Nasser Al-Ajramy, kepala perkumpulan pemilik toko roti, mengatakan 25 toko roti yang diberi tahu akan menerima tepung dari Program Pangan Dunia (WFP), tidak melihat apa pun dan tidak ada bantuan dari rasa lapar bagi orang-orang yang menunggu makanan.
"Tidak ada tepung, tidak ada makanan, tidak ada air," kata Sabah Warsh Agha, seorang wanita berusia 67 tahun dari kota Beit Lahiya di Gaza utara yang berlindung di sekelompok tenda di dekat pantai di Kota Gaza dilansir Reuters.
"Kami dulu mengambil air dari pompa, sekarang pompa itu sudah berhenti bekerja. Tidak ada solar atau gas,” imbuhnya.
Dimulainya kembali serangan terhadap Gaza sejak Maret, menyusul gencatan senjata selama dua bulan, menuai kecaman dari negara-negara yang telah lama berhati-hati dalam mengungkapkan kritik terbuka terhadap Israel.
BACA JUGA:
Bahkan Amerika Serikat, sekutu terpenting negara itu, telah menunjukkan tanda-tanda kehilangan kesabaran terhadap Netanyahu.
Inggris telah menangguhkan pembicaraan dengan Israel mengenai kesepakatan perdagangan bebas. Sedangkan Uni Eropa mengatakan akan meninjau pakta mengenai hubungan politik dan ekonomi atas "situasi bencana" di Gaza. Inggris, Prancis, dan Kanada telah mengancam akan melakukan "tindakan konkret" jika Israel melanjutkan serangannya.