JAKARTA — Sebanyak 13 orang dilaporkan meninggal dunia dalam sebuah ledakan dahsyat yang terjadi saat kegiatan pemusnahan amunisi tidak layak pakai di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Senin pagi 12 Mei.
Ledakan tersebut terjadi di area yang menjadi lokasi resmi peledakan oleh personel militer, dan memicu keprihatinan nasional atas keselamatan prosedur militer dalam menangani bahan peledak.
Menanggapi tragedi tersebut, Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Nurul Arifin, mendesak pihak TNI untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) yang digunakan dalam kegiatan pemusnahan amunisi.
Menjelang ledakan mematikan itu #Cibalong #Garut pic.twitter.com/wwdEnzaqEY
— VOI Media (@MediaVoi) May 12, 2025
“Saya sangat berduka dan prihatin atas musibah ini. Kegiatan pemusnahan amunisi tentu mengandung risiko tinggi, dan oleh karena itu, harus dilakukan dengan protokol keamanan yang sangat ketat. Tragedi ini menunjukkan adanya kemungkinan kelalaian atau kekurangan dalam SOP yang digunakan,” ujar Nurul Arifin dalam keterangan pers di Jakarta, Senin 12 Mei.
Nurul menambahkan bahwa sebagai mitra kerja TNI, Komisi I DPR RI akan meminta laporan resmi dari Mabes TNI, khususnya dari TNI Angkatan Darat, mengenai kronologi dan tanggung jawab atas insiden tersebut. Ia juga menekankan pentingnya audit menyeluruh terhadap prosedur disposal amunisi, terutama yang melibatkan personel sipil.
“Kegiatan seperti ini tidak boleh dianggap rutinitas biasa. Harus dipastikan bahwa seluruh personel yang terlibat memiliki keahlian, alat pelindung diri yang memadai, serta bahwa lingkungan sekitar benar-benar steril dari risiko,” lanjutnya.
BACA JUGA:
Adapun korban jiwa terdiri dari beberapa personel militer dan warga sipil. Termasuk di antaranya Kolonel Cpl Antonius Hermawan dan Mayor Cpl Anda Rohanda, serta sejumlah warga sipil yang diduga ikut terlibat dalam kegiatan atau berada di sekitar lokasi saat kejadian.
“Kami juga meminta TNI untuk memberikan perhatian maksimal kepada keluarga korban, baik dalam bentuk santunan, pendampingan psikologis, maupun penghormatan layak terhadap para prajurit yang gugur,” tambah Nurul.
Menurut laporan awal dari Unit Intel Kodim 0611/Garut, seluruh korban kini telah dievakuasi ke RSUD Pameungpeuk dan lokasi ledakan telah diamankan oleh aparat gabungan. Tim investigasi internal TNI disebut tengah bekerja untuk mengumpulkan data teknis dan mengkaji penyebab ledakan.
“Kita tidak ingin tragedi ini berulang. Komisi I akan terus mengawal proses investigasi dan meminta adanya pengetatan keamanan dalam penanganan bahan peledak di lingkungan militer,” tutup Nurul Arifin.