JAKARTA - Menteri Kebudayaan Fadli Zon secara resmi menobatkan Pangeran Cevi Yusuf Isnendar sebagai Raja Kebudayaan Banjar Kalimantan. Penobatan berlangsung di Balairung Gajah Mada, Kraton Majapahit, Jakarta Timur, Selasa 6 Mei, disertai penyematan mahkota langsung oleh Menbud.
Dalam sambutannya, Fadli Zon menyatakan penobatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah strategis dalam mendorong pemajuan kebudayaan, khususnya di Kalimantan.
“Raja budaya memiliki peran kunci. Saya berharap Sultan Cevi Yusuf dapat menjadi penggerak utama pelestarian budaya Banjar dan Kalimantan secara luas,” ujar Fadli dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu, 7 Mei.
Ia juga mengingatkan bahwa konstitusi, khususnya Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945, menegaskan kewajiban negara untuk memajukan kebudayaan nasional dan menjamin kebebasan masyarakat dalam mengembangkan nilai-nilai budayanya.
Menanggapi amanah tersebut, Pangeran Cevi Yusuf menyatakan kesiapannya menyusun rencana kerja untuk menjaga dan mengembangkan tradisi Banjar. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan.
“Saya akan melibatkan berbagai pihak dalam semangat gotong royong. Kita akan jadikan budaya Banjar sebagai representasi kekuatan jati diri bangsa Indonesia yang bersatu dalam keberagaman,” ujarnya.
BACA JUGA:
Ia menambahkan, kekuatan budaya lokal menjadi tameng terhadap intrusi budaya asing yang berpotensi merusak nilai-nilai luhur bangsa.
Sejumlah tokoh hadir dalam penobatan tersebut, termasuk Jenderal (Purn.) AM Hendropriyono, Jenderal (Purn.) Try Sutrisno, Duta Besar Palestina Zuhair Al Shun, Duta Besar Arab Saudi Faisal bin Abdullah Al-Amudi, serta perwakilan dari India, Amerika Serikat, Timor Leste, Singapura, Rusia, dan tokoh adat Kraton Nusantara.
Di akhir sambutan, Menbud Fadli Zon mengajak seluruh pewaris kerajaan dan kesultanan untuk bersinergi dalam membangun kebudayaan nasional.
“Raja-raja Nusantara adalah entitas budaya. Kolaborasi dan sinergi dengan mereka adalah kunci agar budaya menjadi kekuatan pemersatu dan arah pembangunan nasional yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian,” kata Fadli Zon.