JAKARTA - Rusia ingin melihat Suriah yang bersatu dan bersahabat karena ketidakstabilan di sana dapat memengaruhi seluruh Timur Tengah.
Bentrokan antara pendukung mantan presiden Bashar al-Assad dan penguasa baru di negara itu menewaskan lebih dari 1.000 orang, sebagian besar warga sipil.
Moskow merupakan pendukung utama Assad, yang melarikan diri ke Rusia pada Desember setelah ia digulingkan.
Rusia memiliki dua pangkalan militer yang penting secara strategis di Suriah, yang diharapkan dapat dipertahankan setelah Assad jatuh.
"Ini adalah kawasan yang sangat eksplosif dan, tentu saja destabilisasi atau disintegrasi salah satu negara di kawasan ini dapat menimbulkan konsekuensi yang menghancurkan bagi kawasan secara keseluruhan. Karena itu, kami ingin melihat Suriah bersatu, makmur, berkembang, dapat diprediksi, dan bersahabat," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan dilansir Reuters, Selasa, 11 Maret.
Ia mengatakan Rusia sedang menghubungi negara-negara lain mengenai situasi di Suriah.
Pada Senin, duta besar Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Vassily Nebenzia, dikutip oleh kantor berita milik pemerintah TASS, mengatakan Rusia sedang berkoordinasi dengan Amerika Serikat terkait dengan meningkatnya kekerasan di Suriah.