JAKARTA - Presiden Vladimir Putin mengatakan pada Hari Kamis, Rusia akan mengupayakan kesepakatan damai perang di Ukraina yang memberikan jaminan keamanan jangka panjang.
"Kita harus memilih sendiri opsi perdamaian yang sesuai untuk kita dan yang akan menjamin perdamaian bagi negara kita dalam jangka panjang," kata Presiden Putin kepada sekelompok wanita Rusia yang telah kehilangan orang yang dicintai akibat perang di Ukraina yang sudah memasuki tahun ketiga, dikutip dari Reuters 7 Maret.
Ketika ditanya oleh ibu dari salah satu tentara yang gugur apakah Rusia akan mundur, Presiden Putin mengatakan dia tidak bermaksud melakukan itu.
Diketahui, Rusia saat ini menguasai kurang dari seperlima wilayah Ukraina atau sekitar 113.000 km persegi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengubah kebijakan Barat terkait perang Ukraina, membuka perundingan bilateral dengan Moskow dan menghentikan bantuan militer ke Kyiv setelah berselisih dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih minggu lalu.
Reuters melaporkan pada Bulan November, Presiden Putin terbuka untuk membahas kesepakatan damai Ukraina dengan Presiden Trump tetapi mengesampingkan konsesi teritorial besar apa pun dan akan bersikeras agar Kyiv meninggalkan ambisi untuk bergabung dengan NATO.
Dalam komentar musim panas lalu yang menetapkan persyaratannya untuk mengakhiri perang, Presiden Putin juga mengatakan Ukraina harus menarik semua pasukannya dari seluruh wilayah empat wilayah Ukraina yang diklaim dan sebagian dikuasai oleh Rusia.
Perubahan dramatis kebijakan AS terhadap Ukraina oleh Presiden Trump telah meningkatkan harapan untuk perundingan damai, tetapi juga telah membuat khawatir sekutu-sekutu Washington di Eropa yang minggu ini telah menegaskan kembali dukungan mereka untuk Kyiv.
Pada Hari Rabu, Presiden Prancis Emmanuel Macron membuat marah Moskow, ketika ia mengatakan dalam sebuah pidato, Rusia merupakan ancaman bagi Eropa.
BACA JUGA:
Presiden Macron mengatakan Paris dapat membahas perluasan payung nuklirnya ke sekutu dan ia akan mengadakan pertemuan dengan para kepala militer dari negara-negara Eropa yang bersedia mengirim pasukan penjaga perdamaian ke Ukraina setelah kesepakatan damai apa pun
Rusia mengejek Macron, memanggilnya "Micron". Kartun Rusia menggambarkannya sebagai Kaisar Prancis Napoleon yang menuju kekalahan di Rusia pada tahun 1812.
"Masih ada orang yang ingin kembali ke masa Napoleon, mereka lupa bagaimana itu berakhir," kata Presiden Putin pada Hari Kamis, tanpa menyebut nama Presiden Macron.
"Semua kesalahan musuh dan lawan kita dimulai dengan ini: meremehkan karakter orang Rusia dan perwakilan budaya Rusia secara umum," tambah Presiden Putin.