JAKARTA - Sejumlah prgram kesehatan yang pendanaannya dengan AS dihentikan secara tiba-tiba pekan lalu, dilapoorkan sudah menerima surat pembatalan keputusan tersebut.
Para penerima bantuan mengatakan keputusan tersebut menjanjikan, tetapi pekerjaan mereka masih belum jelas karena pendanaan untuk proyek mereka dari donor terbesar di dunia belum dimulai kembali.
Pada Kamis pekan lalu, pemerintahan Donald Trump membatalkan sekitar 90% kontrak yang didanai oleh Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) dan Departemen Luar Negeri AS, yang menimbulkan gelombang kejut di seluruh komunitas bantuan global.
Michael Adekunle Charles, kepala eksekutif RBM Partnership to End Malaria, mengatakan surat pembatalan keputusan itu diterima pada Rabu malam.
"Saya pikir itu kabar baik. Kita perlu menunggu dalam beberapa hari mendatang untuk mendapatkan panduan tambahan," katanya dilansir Reuters, Kamis, 6 Maret.
“Prioritas kami adalah menyelamatkan nyawa, jadi semakin cepat kita dapat mulai menyelamatkan nyawa, semakin baik,” sambungnya.
Namun, Charles mengatakan itu akan sulit kecuali pendanaan mulai mengalir lagi. Beberapa kontraktor bantuan asing AS dan penerima hibah akan memperjuangkan agar pembayaran dikembalikan kepada hakim federal di AS pada Kamis.
Program lain yang diselenggarakan oleh PBB dan sebagian didanai oleh AS, termasuk Stop TB Partnership, juga telah dibatalkan penghentian pendanaannya, kata dua sumber yang dekat dengan kelompok tersebut mengatakan kepada Reuters.
Trump memerintahkan penghentian sementara selama 90 hari untuk semua bantuan luar negeri AS pada hari pertamanya kembali menjabat.
BACA JUGA:
Tindakan tersebut termasuk perintah penghentian kerja berikutnya yang menghentikan operasi USAID di seluruh dunia, telah membahayakan pengiriman bantuan makanan dan medis yang menyelamatkan nyawa, sehingga mengacaukan upaya bantuan kemanusiaan global.
Pemerintah juga telah menempatkan sebagian besar staf USAID pada cuti dan menghilangkan 1.600 pekerjaan.