Oleh sebab itu, Khoirudin meminta Pemprov DKI kembali membangun terowongan yang bisa memompa debit air di aliran sungai agar cepat disalurkan ke laut.
"Saya berharap ke depan ada kanal pengendali banjir, seperti di beberapa kota di dunia. Di Kuala Lumpur misalnya, ada tunnel, terowongan, air di permukaan dipompa ke bawah dan kemudian dibuang ke laut," kata Khoirudin kepada wartawan, Kamis, 6 Maret.
Dengan adanya pemompaan air yang didorong ke laut melewati terowongan, Khoirudin menyebut hal itu bisa lebih membantu debit air yang terlalu banyak di permukaan. Sehingga, dampak banjir di permukiman warga bisa lebih dikendalikan.
Selain itu, Khoirudin juga mendorong Pemprov DKI untuk terus melakukan pengerukan lumpur pada sungai, danau, embung, situ, hingga waduk sepanjang tahun. Pengerukan ini, menurutnya, tak cukup hanya dilakukan saat musim hujan saja.
"Memang ada pendangkalan sungai, aliran air. Lumpur-lumpur semakin meninggi yang membuat debit air menjadi berkurang tampungannya. Saya menyarankan kepada pemerintah agar segera melakukan pengerukan terhadap seluruh saluran air dan sungai," jelas Khoirudin.
"Tetap saja tahun depan saat musim hujan harus kembali melakukan pengerukan, karena memang endapan itu mengalir bersama aliran air. Jadi, pengerjaan banjir terus kita lakukan," tambahnya.
Banjir di permukiman warga yang berada dekat aliran sungai membuat warga Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur mempertanyakan fungsi Sodetan Ciliwung. Padahal, sodetan tersebut diklaim sebagai solusi untuk mengalirkan banjir kiriman dari Sungai Ciliwung ke Banjir Kanal Timur (BKT).
"Puncak banjir hari ini cukup tinggi, mencapai dua meter. Saya bingung, sodetan di Otista ini fungsinya apa? Katanya sudah jadi, tapi kok masih banjir?" ujar Wahyu (45), warga RT 12/RW 04, Kebon Pala II.
BACA JUGA:
"Sodetan ini dibuat untuk mengalirkan air ke BKT. Kalau sudah berfungsi, kenapa di sini masih terus banjir? Malah yang rumahnya kena normalisasi jadi makin terdampak," tambahnya.