Bagikan:

JAKARTA - Sekutu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Partai Republik mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Hari Minggu untuk mengubah posisinya terkait perang dengan Rusia atau mengundurkan diri, meningkatkan tekanan setelah pertemuan di Gedung Putih pekan lalu.

Pertemuan Presiden Trump dan Wakil Presiden JD Vance bersama Presiden Zelensky dir Ruang Oval pada Hari Jumat berakhir dengan 'bencana', setelah ketiganya terlibat perdebatan sengit di hadapan media, menyebabkan penandatanganan kesepakatan mineral dan jumpa pers bersama batal.

Dalam pertemuan itu Presiden Zelensky berpendapat, Presiden Rusia Vladimir Putin tidak menghormati perjanjian gencatan senjata tahun 2019 dan menggambarkannya sebagai pembunuh dan teroris.

Mike Waltz, Penasihat Keamanan Nasional Presiden Trump mengatakan, pihaknya tidak yakin Presiden Zelensky siap untuk menegosiasikan akhir perang.

Waltz menggarisbawahi tujuan Presiden Trump untuk perdamaian permanen antara Moskow dan Kyiv yang melibatkan konsesi teritorial dengan imbalan jaminan keamanan yang dipimpin Eropa.

Ketika ditanya apakah Presiden Trump ingin Presiden Zelensky mengundurkan diri, Waltz mengatakan kepada program "State of the Union" CNN: "Kita membutuhkan seorang pemimpin yang dapat berurusan dengan kita, akhirnya berurusan dengan Rusia dan mengakhiri perang ini," seperti dilansir dari Reuters 3 Maret.

"Jika menjadi jelas motivasi pribadi atau motivasi politik Presiden Zelensky berbeda dari mengakhiri pertempuran di negaranya, maka saya pikir kita memiliki masalah nyata di tangan kita," Waltz menambahkan.

Sementara itu, Senator AS Lindsey Graham dari Carolina Selatan, sekutu utama Trump dan juga pendukung Ukraina, mempertanyakan apakah Negeri Paman Sam masih dapat bekerja sama dengan Pemimpin Kyiv perdebatan di Gedung Putih.

Sedangkan Ketua DPR Mike Johnson mengeluarkan pesan serupa pada Hari Minggu.

"Sesuatu harus berubah. Dia harus sadar dan kembali ke meja perundingan dengan rasa terima kasih, atau orang lain harus memimpin negara untuk melakukan itu," kata anggota DPR dari Partai Republik itu kepada program "Meet the Press" NBC, merujuk pada Zelensky.

"Sejujurnya, saya ingin melihat Presiden Putin dikalahkan. Dia adalah musuh Amerika Serikat. Namun, dalam konflik ini, kita harus mengakhiri perang ini."

Terpisah, Senator Bernie Sanders, seorang independen dari Vermont yang berpihak pada Demokrat, menepis saran Presiden Zelensky harus mengundurkan diri.

"Saya pikir itu adalah saran yang mengerikan. Presiden Zelensky memimpin sebuah negara, mencoba mempertahankan demokrasi melawan seorang diktator otoriter, Putin, yang menginvasi negaranya," kata Sanders di "Meet the Press."

Adapun senator Partai Republik James Lankford dari Oklahoma mengatakan di program yang sama, dia tidak setuju dengan seruan agar Presiden Zelensky mengundurkan diri.

Demokrat telah menyatakan rasa jijik atas nada pertemuan Trump dengan pemimpin Ukraina tersebut.

Senator Chris Murphy dari Connecticut mengecam Gedung Putih karena lebih dekat dengan Rusia daripada dengan sesama negara demokrasi.

"Benar-benar memalukan apa yang terjadi saat ini. Gedung Putih telah menjadi bagian dari Kremlin," katanya di program "State of the Union" CNN.

"Seluruh dalih untuk pertemuan itu adalah upaya untuk menulis ulang sejarah guna menandatangani kesepakatan dengan Putin yang menyerahkan Ukraina kepada Putin. Itu adalah bencana bagi keamanan nasional AS."

Waltz menyebutnya "sama sekali tidak benar" pertemuan di Ruang Oval merupakan penyergapan, dan Pemerintahan Trump menempatkan tanggung jawab pada Ukraina untuk mengubah posisi mereka.

"Kami akan siap untuk terlibat lagi ketika mereka siap untuk berdamai," kata Menteri Luar Negeri Marco Rubio dalam program "This Week" di ABC.

Ia mengatakan belum berbicara dengan Presiden Zelensky atau Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha sejak pertemuan Hari Jumat.

"Tidak seorang pun di sini yang mengklaim Vladimir Putin akan mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini," kata Menlu Rubio, sambil berpendapat negosiasi dengan Moskow diperlukan.

"Anda tidak akan membawa mereka ke meja perundingan jika Anda mencaci-maki mereka, jika Anda bersikap antagonis," katanya.