Bagikan:

JAKARTA - Negara-negara Arab sedang menyusun rencana yang akan membangun kembali Gaza tanpa menggusur warganya, menjamin keamanan dan pemerintahan.

Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi pada Jumat, 14 Februari waktu setempat. Dia mengatakan negaranya tidak dapat menerima lebih banyak warga Palestina.

Negara-negara Arab kecewa awal bulan ini setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana untuk “membersihkan” warga Palestina dari Gaza dan memukimkan kembali sebagian besar dari mereka di Yordania dan Mesir.

Gagasan ini langsung ditolak oleh Kairo dan Amman dan dianggap sangat mengganggu stabilitas di sebagian besar kawasan.

“Untuk menjawab Anda dengan tegas, 35% dari populasi kami adalah pengungsi, kami tidak mampu membiayai lagi, kami tidak bisa menerima warga Palestina datang ke Yordania. Mereka tidak ingin datang ke Yordania dan kami tidak ingin mereka datang ke Yordania,” kata Ayman Safadi pada Konferensi Keamanan Munich dilansir Reuters, Sabtu, 15 Februari.

Raja Yordania Abdullah melakukan perjalanan ke Washington pada 11 Februari, di mana ia menegaskan kembali “posisi teguh” negaranya terhadap rencana Trump.

Menurut dua sumber diplomatik Eropa yang mengetahui pertemuan tersebut, Raja mengatakan kepada Trump bahwa rencana Arab akan “lebih murah dan lebih cepat” dibandingkan usulan Trump, sesuatu yang tampaknya diterima oleh pemimpin Amerika tersebut.

“Kami sedang mengerjakan proposal Arab yang akan menunjukkan bahwa kami dapat membangun kembali Gaza tanpa menggusur warganya, bahwa kami dapat memiliki rencana yang akan menjamin keamanan dan pemerintahan,” kata Safadi.

Israel menurutnya juga harus memikirkan bagaimana mereka ingin melihat wilayah tersebut dalam waktu 10 atau 20 tahun.

“Israel juga harus berpikir jangka panjang. Agar bisa hidup damai dan aman, negara-negara tetangganya juga harus hidup damai dan aman,” katanya.

Arab Saudi memelopori upaya mendesak Arab untuk mengembangkan rencana masa depan Gaza sebagai perlawanan terhadap ambisi Presiden AS Donald Trump untuk mewujudkan Riviera Timur Tengah yang bersih dari penduduk Palestina, 10 sumber kepada Reuters.

Safadi memperingatkan meskipun fokusnya adalah di Gaza, ada bahaya nyata terjadinya eskalasi di Tepi Barat yang diduduki Israel.

Israel yang memandang Tepi Barat sebagai bagian dari perang multi-front melawan kelompok-kelompok dukungan Iran yang didirikan di sekitar perbatasannya, melancarkan operasi tersebut setelah mencapai gencatan senjata dalam perangnya di Gaza melawan kelompok militan Palestina Hamas.

Ribuan warga Palestina telah meninggalkan rumah mereka di Tepi Barat setelah serangan militer dan kehancuran yang meluas.

“Tepi Barat adalah tong mesiu yang bisa meledak,” kata Safadi.