Bagikan:

JAKARTA - Kelompok militan Palestina Hamas memperingatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, satu-satunya cara membawa pulang sandera adalah gencatan senjata, ancaman hanya memperumit masalah.

Itu disampaikan sebagai respons terhadap komentar Presiden Trump mengenai pengumuman rencana penundaan pembebasan sandera di Jalur Gaza yang sediakan dilakukan akhir pekan ini.

"Trump harus ingat, ada kesepakatan yang harus dihormati oleh kedua belah pihak, dan ini adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan para tawanan (Israel). Bahasa ancaman tidak ada nilainya dan hanya memperumit masalah," kata pejabat senior Hamas Sami Abu Zuhri kepada Reuters, seperti dikutip.

Diberitakan sebelumnya, kelompok militan Palestina Hamas pada Hari Senin mengumumkan akan menunda pembebasan sandera Israel yang direncanakan akhir pekan ini hingga pemberitahuan lebih lanjut, lantaran Israel melanggar gencatan senjata.

"Pembebasan tahanan, yang dijadwalkan pada Hari Sabtu mendatang, 15 Februari 2025, akan ditunda hingga pemberitahuan lebih lanjut, sambil menunggu kepatuhan pendudukan dan pemenuhan kewajiban minggu-minggu sebelumnya secara retroaktif," kata juru bicara sayap militer Hamas Abu Ubaida, dikutip dari The Times of Israel.

Kendati demikian, Hamas mengatakan terbuka untuk memenuhi pembebasan tepat waktu, jika Israel menghentikan pelanggaran. Abu Ubaida mengatakan, pihaknya berkomitmen terhadap perjanjian gencatan senjata, selama Israel mematuhinya.

Merespons itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Hamas harus membebaskan semua sandera yang ditahan oleh kelompok militan di Gaza paling lambat Sabtu siang atau dia akan mengusulkan pembatalan gencatan senjata Israel-Hamas dan "membiarkan kekacauan terjadi."

Terpisah, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel tetap bertekad untuk mendapatkan semua sandera kembali.

"Kami akan terus mengambil tindakan tegas dan kejam sampai kami mengembalikan semua sandera kami, yang masih hidup dan yang sudah meninggal".

Hamas dan Israel menyepakati gencatan senjata dan pembebasan sandera bertahap mulai 19 Januari, setelah mediasi selama berbulan-bulan oleh Qatar, Mesir dan Amerika Serikat, setelah terlibat dalam konflik terbaru yang pecah pada 7 Oktober 2023.

Sejauh ini, 16 dari 33 sandera yang akan dibebaskan dalam fase pertama kesepakatan selama 42 hari telah pulang, sementara lima sandera Thailand dikembalikan dalam pembebasan yang tidak dijadwalkan.