Bagikan:

JAKARTA - Politisi sayap kanan Israel menyerukan dilanjutkannya serangan terhadap Jalur Gaza, menyambut respons Presiden Amerika Serikat, usai kelompok militan Palestina Hamas mengumumkan rencana penundaan pembebasan sandera.

Mantan Menteri Keamanan nasional Itamar Ben Gvir menyerukan Israel untuk melanjutkan kampanyenya melawan Hamas di Gaza setelah pengumuman rencana penundaan pembebasan.

Ben-Gvir mengatakan Israel harus melakukan "serangan besar-besaran terhadap Gaza, dari udara dan darat, bersamaan dengan penghentian total bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, termasuk listrik, bahan bakar dan air, termasuk pemboman paket bantuan yang telah dibawa masuk dan berada di tangan Hamas."

"Kita harus kembali berperang dan menghancurkan!" tulisnya dalam sebuah posting di X, melansir The Times of Israel 11 Februari.

Bulan lalu, Partai Otzma Yehudit pimpin Ben-Gvir meninggalkan koalisi Pemeritahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai protes atas persetujuan pemerintah terkait kesepakatan gencatan senjata sandera dengan Hamas.

itamar ben-gvir
Itamar Ben-Gvir. (Wikimedia Commons/DedaSasha)

Sebelumnya, kelompok militan Palestina Hamas pada Hari Senin mengumumkan akan menunda pembebasan sandera Israel yang direncanakan akhir pekan ini hingga pemberitahuan lebih lanjut, lantaran Israel melanggar gencatan senjata.

"Pembebasan tahanan, yang dijadwalkan pada hari Sabtu mendatang, 15 Februari 2025, akan ditunda hingga pemberitahuan lebih lanjut, sambil menunggu kepatuhan pendudukan dan pemenuhan kewajiban minggu-minggu sebelumnya secara retroaktif," kata juru bicara sayap militer Hamas Abu Ubaida.

Kendati demikian, Hamas mengatakan terbuka untuk memenuhi pembebasan tepat waktu, jika Israel menghentikan pelanggaran. Abu Ubaida mengatakan, pihaknya berkomitmen terhadap perjanjian gencatan senjata, selama Israel mematuhinya.

Dalam pernyataannya pada Hari Senin, Hamas mengatakan mereka telah "memantau dengan cermat pelanggaran dan kegagalan musuh untuk mematuhi ketentuan perjanjian selama tiga minggu terakhir."

Di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera bertahap di Jalur Gaza dibatalkan jika Hamas tidak membebaskan sandera pekan ini, menyusul pengumuman penangguhan oleh kelompok militan Palestina itu.

bezalel smotrich
Bezalel Smotrich. (Wikimedia Commons/ויקי4800)

Presiden Trump mengatakan, gencatan senjata Gaza dan kesepakatan pembebasan sandera harus dibatalkan jika semua sandera tidak dibebaskan paling lambat pukul 12 siang Sabtu pekan ini.

"Biarkan semua neraka pecah," katanya kepada wartawan dari Ruang Oval Gedung Putih.

Presiden Trump menekankan, pada akhirnya keputusan ada di tangan Israel, menambahkan "Saya berbicara untuk diri saya sendiri. Israel dapat mengesampingkannya."

Ben-Gvir dan politisi sayap kanan lainnya, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich merespons komentar Presiden Trump.

"Semuanya, sekarang," cuit Menkeu Smotrich di media sosial X.

Sedangkan Ben-Gvir kembali menyerukan untuk segera memulai serangan kembali.

"Trump benar. Kembalilah untuk menghancurkan sekarang," cuit Ben-Gvir.

Diketahui, setelah perang selama 15 bulan, gencatan senjata dan pembebasan sandera bertahap antara Hamas dan Israel menyepakati gencatan senjata yang diumumkan pada 15 Januari di Doha, usai mediasi oleh Qatar, Mesir dan Amerika Serikat selama berbulan-bulan.

Kesepakatan tiga tahap itu mulai berlaku pada 19 Januari, setelah sempat tertunda selama beberapa jam.

Sejauh ini, 16 dari 33 sandera yang akan dibebaskan dalam fase pertama kesepakatan selama 42 hari telah pulang, sementara lima sandera Thailand dikembalikan dalam pembebasan yang tidak dijadwalkan, dikutip dari Reuters.

Sebagai gantinya, Israel telah membebaskan ratusan tahanan dan narapidana, termasuk tahanan yang menjalani hukuman seumur hidup karena serangan mematikan dan warga Palestina yang ditahan selama perang dan ditahan tanpa dakwaan.