JAKARTA - Departemen Pertahanan (Pentagon) siap mempertimbangkan semua opsi terkait Jalur Gaza, sementara Gedung Putih mengatakan Presiden Joe Biden belum berkomitmen mengerah pasukan ke wilayah kantong Palestina itu, menyusul komentarnya saat bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada Hari Selasa.
Presiden Biden mengusulkan pemindahan permanen warga Palestina di Gaza dalam pertemuan dengan PM Netanyahu, mengatakan Amerika Serikat ingin mengambil alih wilayah tersebut untuk kemudian membangunnya, tidak menutup kemungkinan pengiriman militer AS ke sana.
Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada para wartawan, Presiden Trump percaya Amerika Serikat perlu terlibat dalam pembangunan kembali Gaza "untuk memastikan stabilitas di wilayah tersebut."
"Itu tidak berarti tentara harus menginjakkan kaki di Gaza," katanya, melansir Reuters 6 Februari.
Leavitt juga mengatakan, Presiden Trump ingin melihat warga Palestina yang tinggal di Gaza "direlokasi sementara" agar daerah kantong tersebut dapat dibangun kembali.
Sebelumnya, Presiden Trump pada Hari Selasa menyerukan pemindahan permanen warga Palestina dari Gaza, yang menuai kecaman global. Leavitt tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai pergeseran retorika tersebut.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Trump tidak mengesampingkan pengiriman pasukan Amerika untuk membantu mengamankan Gaza, menyusul pengambilalihan AS.
"Sejauh menyangkut Gaza, kami akan melakukan apa yang diperlukan. Jika diperlukan, kami akan melakukannya. Kami akan mengambil alih bagian yang akan kami kembangkan," kata Presiden Trump ketika ditanya apakah dia bersedia mengirim pasukan AS untuk mengisi kekosongan keamanan di Gaza.
Terpisah, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan pada Hari Rabu, Pentagon siap mempertimbangkan semua opsi untuk Gaza, sehari setelah pernyataan Presiden Trump.
"Mengenai masalah Gaza, definisi kegilaan adalah mencoba melakukan hal yang sama berulang-ulang," kata Hegseth sebelum pertemuan dengan PM Netanyahu di Pentagon.
BACA JUGA:
"Presiden bersedia berpikir outside the box, mencari cara baru dan unik, serta dinamis untuk memecahkan masalah yang selama ini terasa sulit dipecahkan. Kami siap mempertimbangkan semua opsi," tambah Hegseth.
Gagasan Presiden Trump sendiri memicu kecaman internasional dan beberapa perbedaan pendapat dari Partai Republik di Kongres, yang sebagian besar mendukung inisiatif Trump seperti menghentikan bantuan asing dan memberhentikan ribuan pekerja federal.
Belum jelas apakah Presiden Trump akan melanjutkan usulannya atau mengambil posisi ekstrem sebagai strategi tawar-menawar, seperti yang telah dilakukannya pada isu-isu lain.