Bagikan:

JAKARTA - Radio Angkatan Darat Israel pada Hari Minggu melaporkan, Israel Defense Forces (IDF) tengah mempersiapkan diri untuk menyebarkan sistem senjata otomatis, yang dipasang di menara pengintai dan dioperasikan dari jarak jauh, guna mencegah infiltrasi di wilayah pendudukan Tepi Barat untuk pertama kalinya.

Sistem tersebut, yang disebut "Roeh-Yoreh" (Melihat-Menembak), merupakan persenjataan canggih yang dikembangkan oleh perusahaan Rafael Advanced Defense Systems.

Dikutip dari WAFA 15 Desember, sistem tersebut terdiri dari sebuah menara dengan peralatan pengintaian canggih dan sistem tembakan mematikan yang dikendalikan dari jarak jauh, yang dirancang untuk menargetkan dan menembaki individu. Sistem tersebut dikendalikan dari pusat komando dan dimaksudkan untuk membatasi pergerakan di wilayah tersebut.

Sistem itu akan dioperasikan oleh Unit Pengintaian 636 Divisi Tepi Barat, menandai langkah lebih lanjut dalam strategi militer Israel untuk mengendalikan pergerakan warga Palestina di wilayah tersebut melalui pengawasan canggih dan teknologi respons otomatis.

Sejak diperkenalkan ke dalam gudang persenjataan militer Israel pada tahun 2008, sistem tersebut telah digunakan secara eksklusif di Jalur Gaza, disebarkan di sepanjang pagar keamanan untuk menargetkan warga Palestina yang mendekati perbatasan.

Dikatakan, penyebaran baru di Tepi Barat menandai perluasan signifikan penggunaan sistem tersebut.

Langkah ini kemungkinan akan menimbulkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap situasi yang sudah tegang di Tepi Barat.

Menariknya, sistem ini sebagian besar gagal dan dilumpuhkan selama Operasi Banjir Al-Aqsa yang dilakukan kelompok militan Palestina pimpinan Hamas pada 7 Oktober 2023, seperti dikutip dari Al Mayadeen.

Sistem yang dirancang dirancang untuk menargetkan "individu bersenjata yang mendekati pagar pemisah" ini dioperasikan oleh tentara wanita di unit observasi. Tidak ada tentara yang ditempatkan di samping senjata tersebut.

Keputusan untuk menggunakan sistem tersebut di Tepi Barat didorong oleh kekhawatiran atas "ancaman yang ditimbulkan oleh potensi serangan terhadap permukiman," menurut Radio Angkatan Darat Israel.