Presiden Prancis Macron dalam Tekanan Oposisi yang Desak Setop Jual Senjata ke Israel
Nasib anak perempuan di Gaza akibat serangan brutal Israel. Ibu, ayah, saudara laki-lakinya, dan dua saudara perempuannya terbunuh, kakinya harus diamputasi./FOTO UNRWA via news.un.org

Bagikan:

JAKARTA - Sebanyak 115 anggota parlemen Prancis dari kubu oposisi meminta Presiden Emmanuel Macron untuk menghentikan penjualan senjata ke Israel agar tidak "terlibat dalam genosida" di Jalur Gaza.

Permintaan itu disampaikan dalam surat bersama kepada Macron yang dibagikan di platform X oleh anggota parlemen sayap kiri dan wakil ketua kelompok partai La Franco Insoumise, Mathilde Panot.

“Karena Prancis tidak boleh, tidak bisa, dan tidak akan melanggar hukum internasional, 115 anggota parlemen dengan tegas menyerukan kepada Presiden Republik untuk segera menghentikan penjualan senjata ke Israel,” kata Panot. “Peran Perancis adalah untuk mempromosikan perdamaian, bukan terlibat dalam genosida,” dilansir ANTARA dari Anadolu, Sabtu, 6 April.

Bahkan penjualan senjata yang "dianggap murni defensif" harus dihentikan ke Tel Aviv, kata mereka dalam surat tersebut.

"Penting untuk diingat bahwa langkah serupa telah diambil oleh negara-negara lain, seperti Kanada, Belanda, dan Spanyol," kata mereka. "Ini waktunya bagi Prancis untuk bangkit di

momen bersejarah ini.“

 

Israel terus melakukan serangan di Jalur Gaza, di mana setidaknya 33.091 warga Palestina telah terbunuh, sebagian besar adalah wanita dan anak-anak, dan 75.750 orang terluka sejak 7 Oktober 2023, menurut otoritas kesehatan Palestina.

Sebelumnya, kelompok perlawanan Palestina Hamas menerobos perbatasan dengan Israel, melakukan serangan di sana, dan menewaskan sekitar 1.200 orang, menurut Tel Aviv.

Perang Israel di Gaza telah menyebabkan 85 persen penduduk wilayah kantong Palestina itu mengungsi di tengah kondisi memprihatinkan akibat kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan, sementara 60 persen infrastruktur di sana telah rusak atau hancur, menurut PBB.