Bayangkan Negara Dipimpin Orang Suka Marah, JK: Kalau Dia Berdebat dengan Kepala Negara Lain?
Ketua Dewan Etik Korps Alumni HMI (KAHMI) Jusuf Kalla. (dok Setkab)

Bagikan:

JAKARTA - Wakil Presiden (Wapres) ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) menyatakan seorang pemimpin harus mengedepankan sikap sabar daripada memperlihatkan sisi emosional saat menghadapi suatu persoalan.

Hal itu disampaikan oleh JK di dalam forum bertajuk "Dialog Kebangsaan dan Kewirausahaan" di Surabaya, Jawa Timur, Rabu 10 Januari.

"Bagaimana kira-kira negara dipimpin oleh orang yang suka marah? Bagaimana kira-kira kalau dia berdebat dengan kepala negara lain?" ucap JK.

Bahkan dia mengibaratkan pemimpin layak seorang sopir yang harus mengedepankan kesabaran di dalam berlalu lintas. Sebab, jika tidak maka hal itu bisa mencelakakan para penumpang.

"Kalau pilih sopir, jelas yang tahu arah, tidak suka marah-marah. Kalau marah-marah bisa-bisa menabrak nanti," ujarnya.

Lebih lanjut, kata JK, seorang pemimpin, dalam hal ini adalah sosok pemimpin maupun pejabat negara jika tidak bisa mengontrol emosinya, maka dampak besar bisa diterima oleh rakyat.

Oleh karena itu, dia menyebut saking krusial-nya peran tersebut, seorang pemimpin maupun pejabat negara harus bisa punya sikap tenang dan mengedepankan "pemikiran dingin" saat menanggapi maupun menyelesaikan persoalan.

"Pemimpin harus tenang, memiliki gagasan, jangan emosional, karena persoalan bangsa ini banyak, kalau tidak tenang pemimpin kami, tentu tidak baik. Pemimpin jangan emosional," katanya.

Jusuf Kalla pun menyarankan bagi calon kepala negara sudah seharusnya mencontoh dan meneladani sifat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

"Harus amanah, tabligh, paling baik siapa, paling amanah siapa, itu saja pegangannya. Karena kita harus mengikuti ilmu Rasulullah SAW," ucapnya.

Sebagaimana diketahui, sebelum mendatangi forum bertajuk "Dialog Kebangsaan dan Kewirausahaan", Jusuf Kalla terlebih dahulu mengikuti agenda "Konsolidasi Akbar Anies & Muhaimin AMIN Jawa Timur" di DBL Arena Surabaya.

Kedatangan JK hanya sebatas tamu undangan. Hal tersebut disampaikan langsung calon wakil presiden nomor urut 1 Muhaimin Iskandar.

Cak Imin menyampaikan kedatangan Jusuf Kalla bukan sebagai bagian dari tim kampanye atau Tim Nasional (Timnas) Pemenangan "AMIN".

"Beliau tidak bisa memberikan sambutannya karena beliau bukan juru kampanye," kata Cak Imin.