Bagikan:

MAKASSAR - Staf Pengajar Departemen Ilmu Patologi Klinik Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Dr Nursin Abd Kadir menyatakan pihaknya menemukan banyak kasus gangguan ginjal di Maluku Utara (Malut).

"Ditemukan leukosit pada kandungan urine, jikq 37 sampai 40 persen berisiko tinggi Infeksi Saluran Kemih (ISK). Jalan masuk terjadinya gangguan ginjal atau gagal ginjal kronik," katanya di gedung Rektorat Poltekes Ternate, Selasa 14 November, disitat Antara.

Hal ini diketahui usai pihaknya melakukan bakti sosial (baksos) di lima puskesmas yang tersebar di Kota Tidore dan 2 puskesmas di Kecamatan Oba beberapa waktu lalu dalam rangka menyongsong ajang nasional hari Nusantara di Kota Tidore Kepulauan (Tikep).

Dia menyatakan selama dua hari bakti sosial, ada temuan yang mengejutkan terkait hasil tes urine berdasarkan data yang diambil di dua Kelurahan, yaitu Soa-Sio dan Tomalou.

Oleh karena itu, secara nasional berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018, Nursin menyebutkan Provinsi Malut berada di urutan kedua gangguan ginjal kronis pada usia 15 tahun ke atas setelah Kalimantan Utara.

"Kenapa banyak kasus gagal ginjal, saya belum bisa pastikan. Tetapi bukti temuan saya mendukung ke arah sana bahwa terjadi infeksi," katanya.

Di Provinsi Maluku Utara, menurutnya, berada di urutan kedua gangguan ginjal kronis pada usia 15 tahun ke atas dan ini secara Nasional berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) pada tahun 2018.

Nursin mengatakan di tempat temuan walaupun belum diketahui pasti apa penyebab dari infeksi tersebut.

Kemudian temuan terkait risiko stunting seperti sampel di beberapa Kelurahan seperti Tosa, Talagamori dan Lifofa. Prevalensinya 64 sampai dengan 66 persen yang menurutnya sangat tinggi.

"Walaupun kita tidak menemukan adanya keluhan atau ada tetapi nanti sembuh, tetapi ini kalau sampai kronik maka kena ke ginjal, maka inilah awal mula gangguan ginjal dan temuan ini perlu dilakukan tindakan lebih lanjut dengan terus memberikan edukasi," ujarnya.

Oleh karenanya itu, selaku dokter patologi dia mengaku sangat tertarik untuk menindaklanjuti ke depannya dengan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat untuk bagaimana menurunkan angka stunting dan juga penyakit ginjal kronik tersebut.

"Kerja sama dalam bentuk pengabdian masyarakat dan boleh jadi dalam bentuk penelitian, karena itu fungsi dari tri Dharma perguruan tinggi," tandasnya.