Tiga Kriteria Cawapres Anies Baswedan; Nasdem Ingin Pendamping dari Luar Koalisi
Eks Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Balai Kota DKI, Kamis 6 Mei 2021. (ANTARA-M Risyal H)

Bagikan:

YOGYAKARTA - Anies Baswedan, capres yang diusung Partai Nasdem, diberi kebebasan oleh partai untuk menentukan sendiri calon wakil presiden (cawapres) pilihannya. Ada kriteria cawapres Anies Baswedan yang telah disampaikan di Nasdem Tower Gondangdia, Menteng, Jakarta, pada Senin 18 Oktober.

Meski sudah mengungkapkan kriteria cawapres yang dipilih, namun Anies belum memutuskan siapa yang menjadi partnernya di perhelatan demokrasi 2024 nanti. Anies masih perlu banyak waktu untuk menentukan cawapres sebelum Komisi Pemilihan Umum (KPU) membuka pendaftaran paslon capres-cawapres pada 19 Oktober 2023. 

Di sisi lain, Partai Nasdem juga belum membangun koalisi dengan parpol lain. Pembentukan koalisi partai Nasdem saat ini masih dalam proses, meskipun Partai Demokrat dan PKS terlihat sudah sangat merapat ke Nasdem. 

Tiga Kriteria Cawapres Anies Baswedan 

Anies Baswedan membeberkan tiga kriteria pendampingnya sebagai capres dan cawapres dalam Pemilu 2024 nanti. Kriteria yang pertama adalah berkontribusi dalam Kemenangan. Dalam artiannya, cawapresnya harus mempunyai daya untuk meraih pemenangan pada Pemilu. 

Kriteria yang kedua adalah membantu memperkuat stabilitas koalisi. Sebagai pihak yang mengusungnya, Partai NasDem membutuhkan koalisi dari partai lainuntuk memenuhi syarat presidential threshold atau ambang batas pencalonan presiden 20 persen. 

Ketiga, yakni membantu dalam pemerintahan yang efektif. Bisa diartikan bahwa Anies ingin wakilnya memiliki bekal dan kompetensi mumpuni dalam bertugas sebagai pemimpin negara. Ia ingin berduet dengan figur yang mampu membuat pemerintahan berjalan maju dan efektif. 

Cawapres dari Luar Partai Koalisi 

Ahmad Ali, Wakil Ketua Umum Partai NasDem, menyampaikan bahwa cawapres pendamping Anies Baswedan sebaiknya dari luar partai koalisi. Pernyataan ini menjadi wacana buruk bagi koalisi NasDem, yakni Demokrat dan PKS.

Ahmad mengatakan pemilihan cawapres dari koalisi sendiri berpotensi merugikan koalisi yang dibangun. Dia menggambarkan ketika cawapres dipilih dari salah satu dua parpol koalisi, maka satu parpol tidak bagian. Namun Ahmad tetap menghomati mekanisme yang berlaku di internal Demokrat dan PKS. 

Partai yang diketuai Surya Paloh ini tidak ingin hak politik mengajukan capres dan cawapres hanya terpusat pada kader internal masing-masing partai. Ahmad mengungkapkan partai perlu menimbang figur lain yang potensial sebagai kandidat di luar partai dan koalisi. 

Lebih lanjut Ahmad memberi contoh banyak figur-figur di luar parpol yang memiliki kompetensi unggul dan integritas hebat. Nasdem ingin mewadahi sosok berkualitas dan generasi-generasi muda yang punya impian menjadi pemimpin negara. 

Ahmad memberi contoh, Anies Baswedan, kemudian Ridwan Kamil, Khofifah, dan Ganjar. Yang mana mereka terbuka untuk memfasilitasi figur-figur tersebut menjadi capres maupun cawapres. 

Saat ini kolaisi NasDem dengan Demokrat dan PKS sudah mencapai persentase 90 persen. Bisa dikatakan koalisi tersebut tinggal menunggu kata sepakat. Hermawi Taslim, Wakil Sekretaris Jenderal NasDem mengatakan pembentukan koalisi tinggal hal-hal teknis. Namun NasDem menghormati mekanisme internal masing-masing partai. 

Itulah kriteria cawapres Anies Baswedan dan harapan NasDem mengenai pendamping Capres usungannya. Saat ini ada dua sosok kuat yang diunggulkan menjadi cawapres Anies, yakni Khofifah dan AHY. 

Ikuti terus berita terkini dalam negeri dan luar negeri lainnya di VOI . Kamu menghadirkan terbaru dan terupdate nasional maupun internasional.