Struktur Tanah Labil dan Potensi Longsor, SAR Pangkalpinang Minta Aktivitas Penambangan Tradisional Dihentikan
Ilustrasi - Personel SAR Pangkalpinang mengawasi warga di pantai (Foto: ANTARA)

Bagikan:

PANGKALPINANG - Kepala SAR Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Fazzli meminta para penambang biji timah tradisional menghentikan aktivitas karena rawan kecelakaan saat intensitas hujan tinggi.
 
"Saya minta penambang biji timah tradisional yang umumnya dikerjakan oleh masyarakat dapat menghentikan aktivitasnya, curah hujan dapat mengakibatkan potensi tanah longsor di area galian tambang," jelasnya melalui pesan elektronik, Pangkalpinang, Antara, Selasa, 4 Januari.
 
Ia mengatakan, curah hujan yang tinggi mengakibatkan struktur tanah galian biji timah menjadi labil dan mudah berpotensi terjadinya longsor.
 
"Tanah longsor yang mengakibatkan korban jiwa pekerja tambang biji timah tradisional sering terjadi karena pekerja kurang memperhatikan kondisi lingkungan serta tidak menerapkan strandar keselamatan kerja," jelasnya.
 

 
Ia juga mengingatkan masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana seperti banjir, angin puting beliung, agar benar-benar memperhatikan lingkungannya.
 
"Saluran drainase dipastikan harus bersih dari tumpukan sampah agar tidak menghambat aliran air, begitu pula halnya daerah yang rawan angin puting beliung untuk menembang pohon tinggi yang berada disekitar rumah," ujarnya.
 
Masyarakat harus tetap meingkatkan kewasapadaan karena potensi bencana alam dapat terjadi kapan saja baik di darat maupun di air.
 
"Kami terus melakukan koordinasi dengan instasi terkait di daerah seperti TNI, Polri, BPBD dan pihak lainnya guna mempermudah antisipasi sekaligus mempercepat layanan pertolongan jika terjadi musibah," kata dia.