Pintu Maaf Keluarga Khashoggi: Kilas Balik Pembunuhan Keji Sang Jurnalis
Jamal Khashoggi (Instagram/@JKhashoggi)

Bagikan:

JAKARTA - Kisah terbaru dari pembunuhan jurnalis, Jamal Khashoggi. Anak Khashoggi, Salah mengunggah kicauan yang begitu mengunggah, menyatakan telah memaafkan mereka yang menghabisi nyawa ayahnya.

Jumat, 21 Mei, Salah menulis, "Di malam yang diberkati, di bulan penuh berkah ini (Ramadan), kita ingat perkataan Tuhan, 'Jika seseorang mengampuni dan melakukan rekonsiliasi, ganjarannya adalah dari Allah.'”

"Karena itu kami putra dari martir, Jamal Khashoggi, mengumumkan pengampunan bagi mereka yang membunuh ayah kami. Demi keberkahan dan pahala dari Yang Maha Kuasa," tambahnya dikutip Reuters, Jumat, 22 Mei.

2 Oktober 2018, Khashoggi memasuki kantor konsulat Arab Saudi di Turki untuk mengurus dokumen pernikahannya bersama sang tunangan, wanita Turki bernama Hatice Cengiz. CCTV merekam Khashoggi masuk konsulat meski tak pernah menunjukkan tanda-tanda ia keluar dari gedung itu.

Kematian Khashoggi masih meninggalkan banyak tanya. Desember 2019, pengadilan di Arab Saudi menjatuhkan hukuman mati terhadap lima orang terkait pembunuhan Khashoggi.

Jaksa penuntut umum menyatakan pembunuhan Khashoggi adalah akibat dari "operasi liar". Arab Saudi menyebut telah mengadili sebelas orang meski tak pernah menyebut jati diri mereka.

Pangeran Mohammed bin Salman

Kamis, 14 Mei lalu, tunangan Khashoggi, Hatice Cengiz menulis surat terbuka untuk penggemar klub sepak bola Inggris, Newcastle United. Cengiz meminta penggemar menolak rencana pembelian The Magpies oleh Pangeran Mohammed bin Salman.

'Saya bertanya, apakah menerima tawaran Mohammed bin Salman adalah hal yang tepat? Bagaimana bisa klub yang Anda cintai akan dikendalikan oleh orang yang seharusnya diadili karena pembunuhan? Sebagai fan setia, Anda memiliki suara untuk ini. Saya berharap, Anda bisa bersatu untuk melindungi klub tercinta Anda dari Mohammed bin Salman dan orang-orang disekitarnya,'' tulis Cengiz, dikutip TalkSports.

Sang Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi memang sejak lama disebut sebagai dalang dari pembunuhan Khashoggi. Sejumlah lembaga pegiat HAM, lembaga advokasi hukum, hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menunjuk batang hidung Mohammed beserta sejumlah temuan tentang keterlibatannya menghabisi nyawa kolumnis Washington Post.

Pelapor Khusus PBB Agnes Callamard sebelumnya telah mendorong penyelidikan terhadap Mohammed. Ia menyebut apa yang terjadi pada Khashoggi adalah eksekusi di luar pengadilan.

Pemerintahan dunia pun mengutuk keras pembunuhan Khashoggi. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut pembunuhan ini sebagai hal biadab. Negara Eropa lain seperti Jerman, Finlandia, dan Denmark bahkan sempat menangguhkan penjualan senjata militer ke Arab Saudi sebagai protes terhadap intransparansi penyelidikan yang dilakukan otoritas.

Pembunuhan sadis

Rincian pembunuhan Khashoggi yang termuat dalam laporan PBB menggambarkan proses kematian mengerikan yang dialami pria 59 tahun. Hari itu, Khashoggi tewas setelah diseret, dicekik, hingga akhirnya dimutilasi oleh sebelas orang yang dikirim dari Riyadh.

Laporan itu didasari bukti audio intelijen yang menggambarkan situasi ketika para eksekutor mendiskusikan cara memotong dan mengangkut mayat Khashoggi. Bahkan, beberapa menit sebelum Khashoggi memasuki gedung, seorang eksekutor bertanya, "Apakah hewan kurban telah tiba?"

Suara Khashoggi terdengar dalam rekaman. Sekitar 24 menit sejak Khashoggi tiba di Konsulat, intelijen Turki mendengar adanya suara gergaji dan robekan kantong plastik. Aksi pembunuhan keji itu dilakukan oleh warga Saudi, termasuk orang dekat Mohammed, Kepala Intelijen Mayor Jenderal Ahmed Asri, dan Saud al-Qahtani yang pernah menjadi tangan kanan Mohammed.

"Sendi akan dipisahkan. Ini bukan masalah. Tubuhnya berat. Pertama kali, aku harus memotongnya di lantai. Jika kita mengambil kantong plastik dan memotongnya menjadi beberapa bagian, itu akan selesai. Kami akan membungkus setiap bagian," demikian percakapan dokter forensik terkenal Saudi Mohammed Tubaigy dengan perwira intelijen senior Maher Abdulaziz al-Mutreb.

Pemicu pembunuhan Khashoggi

Jamal Khashoggi (Instagram/@JKhashoggi)

 

Dikutip dari era.id, pada Februari 2019, New York Times merilis sebuah laporan berisi percakapan antara Mohammed dengan ajudannya di tahun 2017. Dalam percakapan itu, Mohammed mengatakan akan menggunakan peluru jika Khashoggi tidak kembali ke Arab Saudi dan menyudahi kritik terhadap pemerintahannya.

Dari perannya sebagai jurnalis, Khashoggi memang kerap mengkritik lingkaran Kerajaan. Semuanya dimulai di tahun 2017, ketika Khashoggi diasingkan ke Amerika Serikat (AS). Di sana, ia mulai menulis untuk kolom Washington Post. Lewat tulisan, Khashoggi konsisten dalam kritik.

Bahkan, di tulisan pertamanya untuk Washington Post, Khashoggi menyatakan kecaman terhadap penangkapan para aktor intelektual Arab Saudi di bawah kepemimpinan Mohammed. Khashoggi mengatakan, "Arab Saudi tidak selalu represif. Namun, saat ini tak tertahankan," tertulis.

Khashoggi juga menyoroti agenda regional Mohammed yang menjabat sebagai menteri pertahanan dalam Perang Yaman. Khashoggi mengecam segala upaya menekan demokrasi dan kebebasan berekspresi di seluruh wilayah Timur Tengah, yang sebagian besar disponsori oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

"Ketakutan, intimidasi, penangkapan, dan mempermalukan para intelektual di hadapan publik, serta penangkapan pemimpin agama yang berani mengutarakan pendapat mereka," Khashoggi dalam tulisan pertamanya September 2017, dikutip dari Washington Post.