Kerentanan Bunuh Diri dan Bagaimana Membantu Mereka yang Berpotensi

Kerentanan Bunuh Diri dan Bagaimana Membantu Mereka yang Berpotensi

Ilustrasi bunuh diri (Mohammed Hasan/Pixabay)

Bagikan:

JAKARTA - Baru-baru ini, viral kejadian seorang siswi berusia 14 tahun dari salah satu SMP Negeri di bilangan Jakarta Timur melakukan aksi bunuh diri. Korban yang diketahui bernama Nadia itu, mengakhiri hidupnya karena tidak tahan menjadi korban bullying oleh teman-temannya di sekolah.

Kasus bunuh diri remaja akibat bullying seperti Nadia, bukan kali pertama di Indonesia. Perkara bullying tidak bisa disepelekan. Pada remaja, bullying merupakan pintu masuk bagi berbagai gangguan kesehatan mental seperti depresi, dengan bunuh diri senbagai ujung paling tragis.

Tentang Nadia, kejadian itu bermula saat Nadia memutuskan tidur di ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) karena merasa sakit kepala sejak bangun tidur. Di sela-sela jam kosong pelajaran, Nadia menyampaikan pesan tersebut ke teman-temannya.

Setelah bangun dari tidur, Nadia kembali ke kelas untuk mengambil tas. Namun ternyata tas miliknya disita guru karena Nadia dianggap tidak ada di kelas. Nadia semacam mendapat hukuman. Ia merasa tak baik-baik saja, Nadia lantas menghubungi kakanya. Kemudian, Nadia diminta pulang dan sang kaka berjanji akan mengambilkan tasnya keesokan hari bersama ayah Nadia.

Namun, Nadia memilih tetap berada di sekolah. Pada sekitar pukul 15.00 WIB, Nadia mengirim pesan ke teman-temannya: Kalian semua kan tdk suka sama aku, sampai tdk mau beritahu guru kalo aku sakit tidur di UKS. Tenang aja, nanti jam 15.30 aku juga sudah ga ada kok utk selamanya.

Pesan yang disampaikan Nadia kepada teman-temannya itu benar terjadi. Nadia lompat dari lantai 4 gedung sekolah. Di media sosial juga sempat beredar percakapan via pesan singkat antara Nadia dengan temannya. Di dalam percakapan tersebut, Nadia mengatakan lebih memilih melompat dari lantai 4 gedung sekolahnya, ketimbang pulang dan mendapat kekerasan fisik di rumah. Sebuah pertanyaan besar yang juga belum terungkap.

Ada kemungkinan Nadia tidak hanya merasa tertekan terhadap perilaku bullying yang dilakukan teman-temannya, namun juga merasa tidak aman untuk kembali ke rumahnya. Ironi, sebab seharusnya keluarga adalah rumah pertama dan sekolah adalah rumah kedua bagi siswa, tidak terkecuali Nadia.

Wakil Ketua Komisi X Hetifah Sjaifudian mengingatkan seluruh kepala sekolah maupun guru untuk lebih peduli kepada anak didiknya. Apabila ada pelajar yang mengeluhkan bahwa dia mengalami perlakuan tidak menyenangkan, harus ditanggapi dan ditelusuri dengan serius.

"Pihak sekolah tidak boleh defensif dan otomatis menyangkal bahwa kasus bullying terjadi di sekolahnya, karena seberapa pun besar usaha kita untuk mencegah perundungan terjadi tidak mungkin bisa 100 persen membasmi kemungkinan itu," tutur Hetifah, kepada VOI di Jakarta, Minggu, 19 Januari.

Menurut Hetifah, perlu perubahan cara pandang wali kelas maupun guru bimbingan konseling (BK) untuk menyikapi masalah bullying di sekolah. "Saya sering menerima masukkan mereka suka menyepelekan, malah anak yang melaporkan yang dianggap susah bergaul," ucapnya.

Usia rentan

Data global dari World Health Organization (WHO) pada 2018 menunjukkan masalah bunuh diri merupakan penyebab kematian terbanyak pada kelompok usia 15-29 tahun. Hasil survei dari Global Schoola-Based Student Health Survey di Indonesia pada 2015 menemukan, satu dari 20 remaja pernah merasa ingin bunuh diri.

Ide bunuh diri mencapai 5,9 persen pada remaja perempuan dan 3,4 persen pada remaja laki-laki. Sebanyak 20,7 persen remaja juga pernah mengalami bullying. Dikutip dari CNN, studi terbaru dari California Healthy Kids Survey pada 2019 menunjukkan, bullying memiliki efek jangka pendek dan jangka panjang bagi remaja.

Remaja yang di-bully oleh teman-temannya karena alasan apa pun memiliki dampak kesehatan mental jangka panjang yang lebih buruk daripada anak-anak yang diperlakukan buruk oleh orang dewasa.

Keberpihakan pada korban

Psikolog Ratih Ibrahim mengatakan, keberpihakan terhadap korban bullying sangat penting. Tidak hanya sekadar peduli. Ia juga mengingatkan, bahwa bullying adalah kejahatan yang dilakukan atas dasar kesengajaan, karena sudah mengincar korbannya

"Kita mesti tahu bully itu kejahatan. Ignorance itu juga bully, mengabaikan termasuk bully. Bukan cuma lebih aware, tapi berpihak kepada korban. Kalau korbannya ada salah kita bantu supaya dia bisa memperbaiki hal-hal yang salah di dia," tutur Ratih, saat dihubungi VOI.

Kasus Nadia benar-benar harus menjadi pelajaran, tidak hanya untuk keluarga atau sekolah, namun juga kita semua. Ratih mengatakan, jika rumah tidak bisa memberikan rasa aman, maka sekolah harus memberikannya. Sebab, sekolah adalah rumah kedua bagi anak didiknya.

Ratih juga mengungkap, langkah-langkah yang harus diambil ketika mendapati teman, saudara atau orang di sekeliling kita yang mengalami masalah seperti Nadia. Pertama, harus meningkatkan empati. Menempatkan diri kita sebagai si korban. "Terus keadilan itu harus selalu ditegakkan, kita bantu bukan malah mengucilkan si korban," jelasnya.

Kemudian, kata Ratih, jika korban menceritakan apa yang dialaminya, maka ajak korban untuk mendapatkan bantuan dengan menceritakannya kepada keluarga. Namun, jika masalah berasal dari keluarga, ajak untuk berbicara kepada guru.

"Bantuan dari siapa? Terutama orang tua, kalau orang tuanya enggak, terus siapa? Gurunya dong, jadi guru juga tidak boleh cuek. Kalau ternyata gurunya enggak ngerti mesti apa, sampaikan kepada kepala sekolah. Bentuk solidaritas teman-teman untuk mendukung si korban ini," ucapnya.

Namun, jika keluarga maupun sekolah memperlakukannya tidak baik, kata Ratih, maka ajak korban untuk melapor kepada aparat yang berwajib. Sebab, bully adalah kejahatan. "Kalau kekerasan di rumah maupun di sekolah serius, dilaporkan kepada yang berwajib. Ini kriminal kok, ini tindak kejahatan," tuturnya.

Ratih menilai, dalam kasus yang terjadi kepada Nadia, ada sesuatu yang salah di sekolah tempat Nadia menuntu ilmu. Sebab, gerakan anti-bully adalah gerakan yang sudah terjadi betahun-tahun. "Jadi ada sesuatu yang salah di sekolah itu. Gurunya maupun kepala sekolah mesti diingatkan untuk introspeksi. Ada sesuatu yang tidak benar di sekolahnya. Sampai ada tindakan bully didiamkan saja, kelihatannya sampai gurunya juga ikut membully dia itu kan tidak benar," ucapnya.

Tag: nasional