Bocoran iPhone Ultra Makin Panas! Apple Dihadapkan pada Dua Pilihan Sulit
JAKARTA - Apple dikabarkan masih belum menentukan teknologi engsel yang akan digunakan pada smartphone lipat pertamanya yang sementara ini disebut sebagai iPhone Ultra. Keputusan tersebut diyakini akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kualitas layar lipat, kapasitas produksi, hingga harga jual perangkat.
Bocoran terbaru menyebut Apple tengah mempertimbangkan dua pendekatan berbeda, yakni menggunakan engsel berbahan liquid metal atau memanfaatkan teknologi pencetakan 3D (3D printing). Keputusan final disebut akan diambil sebelum akhir Juli 2026.
Baca juga:
Jika berhasil menghadirkan layar dengan lipatan yang nyaris tak terlihat, iPhone Ultra diperkirakan akan menjadi pesaing serius bagi perangkat foldable premium yang telah lebih dulu dipasarkan Samsung, Oppo, dan Huawei.
Apple Punya Dua Pilihan Teknologi Engsel
Informasi tersebut diungkap pembocor Fixed Focus Digital yang mengklaim Apple masih mengevaluasi dua sistem engsel berbeda untuk iPhone Ultra.
Pilihan pertama adalah liquid metal, material logam amorf yang selama ini dikenal memiliki elastisitas tinggi, ketahanan terhadap goresan, serta kemampuan kembali ke bentuk semula setelah menerima tekanan.
Karakteristik tersebut dinilai sangat cocok untuk perangkat lipat yang harus membuka dan menutup layar ratusan ribu kali selama masa pemakaian.
Pilihan kedua adalah teknologi 3D printing yang memungkinkan produksi engsel dengan proses lebih cepat dan biaya lebih rendah.
Keputusan Apple disebut bergantung pada kondisi rantai pasok serta biaya komponen, terutama memori yang saat ini mengalami kenaikan harga akibat tingginya permintaan dari industri AI.
Apa Itu Liquid Metal?
Liquid metal bukan berarti logam dalam bentuk cair.Material ini merupakan paduan logam khusus (metallic glass) yang tidak memiliki struktur kristal seperti logam konvensional.
Keunggulannya meliputi:
Elastisitas sangat tinggi.
Ketahanan terhadap deformasi.
Lebih tahan gores.
Kekuatan mekanis tinggi.
Cocok untuk komponen yang mengalami tekanan berulang.
Apple sebenarnya bukan pemain baru dalam penggunaan liquid metal. Perusahaan telah memegang lisensi eksklusif untuk sejumlah aplikasi material tersebut selama bertahun-tahun dan pernah memanfaatkannya pada komponen kecil seperti alat pelepas SIM (SIM ejector tool). Namun, penerapannya sebagai mekanisme utama engsel perangkat lipat akan menjadi lompatan yang jauh lebih besar.
3D Printing Lebih Cepat Diproduksi
Alternatif lainnya adalah menggunakan teknologi pencetakan 3D.Pendekatan ini memungkinkan proses manufaktur lebih efisien sehingga Apple dapat meningkatkan volume produksi jika permintaan tinggi.
Menurut rumor, apabila Apple berhasil menekan biaya pasokan memori melalui negosiasi dengan pemasok, perusahaan berpeluang memilih teknologi ini karena lebih mudah diproduksi dalam skala besar dibanding engsel berbahan liquid metal.
Rumor tersebut muncul setelah keberhasilan Oppo menghadirkan layar lipat yang nyaris tanpa lipatan pada Oppo Find N6.Perangkat tersebut menggunakan engsel Titanium Flexion Hinge generasi kedua yang diproduksi melalui teknologi 3D Liquid Printing.
Teknologi itu memanfaatkan pemindaian laser untuk mendeteksi celah mikroskopis, kemudian mengisinya dengan tetesan fotopolimer sehingga menghasilkan struktur yang lebih presisi.
Oppo juga mengklaim Find N6 mampu bertahan hingga 600.000 kali lipatan dan memperoleh sertifikasi "Seamless Folding" dari TÜV Rheinland.
Apple Ingin Hilangkan Lipatan Layar
Selama ini salah satu tantangan terbesar smartphone lipat adalah munculnya bekas lipatan (crease) di bagian tengah layar.Menurut Fixed Focus Digital, Apple ingin menghadirkan lipatan yang kualitasnya setara atau bahkan lebih baik dibanding Oppo Find N6.
Bila berhasil, iPhone Ultra diperkirakan akan menjadi salah satu perangkat foldable dengan layar paling rata di industri.
Selain teknologi engsel, bocoran juga menyebut harga iPhone Ultra tidak akan murah.
Varian dasar diperkirakan dibanderol antara US$2.299 hingga US$2.399 atau sekitar Rp37,2 juta hingga Rp38,9 juta (kurs Rp16.200 per dolar AS).
Harga tersebut hampir dua kali lipat dibanding iPhone 17 Pro Max dan menjadikan iPhone Ultra sebagai iPhone termahal yang pernah dipasarkan Apple.
Spesifikasi iPhone Ultra (Rumor)
Smartphone lipat pertama Apple.
Engsel berbahan liquid metal atau 3D printing.
Layar dengan bekas lipatan yang sangat minim.
Produksi diputuskan pada akhir Juli 2026.
Harga mulai US$2.299–US$2.399.
Peluncuran diperkirakan September 2026.
Keputusan Apple mengenai teknologi engsel akan menjadi faktor penentu keberhasilan iPhone Ultra. Penggunaan liquid metal berpotensi menghasilkan mekanisme yang lebih kuat, lebih awet, dan memberikan pengalaman membuka-tutup yang premium, tetapi proses produksinya lebih rumit dan mahal. Sebaliknya, teknologi 3D printing menawarkan efisiensi manufaktur yang lebih tinggi sehingga mendukung produksi dalam jumlah besar.
Di saat yang sama, Apple juga harus mempertimbangkan tekanan biaya akibat naiknya harga chip memori global. Jika perusahaan memilih engsel yang lebih mahal di tengah lonjakan biaya komponen, harga jual iPhone Ultra bisa semakin tinggi.
Keputusan yang disebut akan diambil pada akhir Juli tidak hanya menentukan desain perangkat, tetapi juga strategi produksi dan posisi kompetitif Apple di pasar smartphone lipat premium.