Amerika Serikat Kembali Lancarkan Serangan ke Iran Selatan
JAKARTA - Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke Iran selatan pada Hari Kamis, setelah Presiden Donald Trump mengancam akan "menyelesaikan pekerjaan" jika Tehran tidak menyetujui kesepakatan perdamaian.
Media Iran melaporkan tiga ledakan keras terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas pada dini hari Kamis, menyusul serangan AS sebelumnya pada minggu ini yang menggarisbawahi kondisi rapuh upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan perdamaian sementara.
"Hari ini, Pasukan Komando Pusat AS (US CENTCOM) menembak jatuh empat drone serang satu arah Iran yang menimbulkan ancaman di sekitar Selat Hormuz," kata seorang pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim, dalam sebuah pernyataan kepada AFP, seperti melansir Al Arabiya (28/5).
"Pasukan AS juga menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang akan meluncurkan drone kelima," lanjut pejabat itu.
Sebelumnya, Iran pada Hari Rabu mengatakan tidak mungkin kedua negara kembali terlibat perang, tetap mengatakan militernya tetap "bersiap siaga", kendati AS melancarkan serangan pada Senin malam.
Pejabat Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Mohammad Akbarzadeh mengatakan kemungkinan "perang rendah karena kelemahan musuh," tetapi memperingatkan militer "bersiap siaga dengan amunisi penuh" jika diserang, lapor kantor berita Tasnim.
Sinyal yang beragam telah menimbulkan pertanyaan tentang pembicaraan yang bertujuan untuk secara resmi mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari dengan serangan AS-Israel terhadap Iran.
"Iran sangat bertekad; mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Sejauh ini, mereka belum sampai di sana. Kami tidak puas dengan itu, tetapi kami akan puas," kata Presiden AS Donald Trump dalam rapat kabinet Gedung Putih yang disiarkan televisi pada Hari Rabu.
"Entah itu atau kita harus menyelesaikan pekerjaan ini," tandasnya.
Fokus utama kesepakatan ini juga memulihkan lalu lintas penuh ke Selat Hormuz, yang secara efektif telah ditutup oleh Tehran, sehingga pasar energi global bergulat dengan pasokan minyak dan gas dalam jumlah besar yang biasanya melewati selat tersebut.
Presiden Trump, yang pada akhir pekan mengatakan kesepakatan sudah dekat, juga mengatakan kepada rapat kabinet bahwa dia tidak terburu-buru.
Baca juga:
- Wamenlu RI Serukan Penguatan Kerja Sama Regional hingga Reformasi PBB di Dushanbe Water Conference 2026
- Wamenlu Tata Peringatkan Kompetisi Global ke Depan Diperkirakan Terkait Penguasaan dan Akses Terhadap Air
- Israel Menyatakan Sebagian Besar Wilayah Lebanon Selatan Sebagai Zona Pertempuran
- AS Perpanjang Status Perlindungan Sementara untuk Warga Lebanon hingga November
Diketahui, Negeri Para Mullah dan Negeri Paman Sam saling melontarkan ancaman selama berminggu-minggu sambil bernegosiasi melalui mediasi Pakistan.
Kedua pihak tampaknya tidak siap untuk berkompromi pada poin-poin utama yang menjadi kendala: Selat Hormuz dan program nuklir Iran.
Iran juga bersikeras bahwa setiap perjanjian damai harus berlaku untuk Lebanon, di mana gencatan senjata 17 April tidak banyak membantu menghentikan pertempuran antara Israel dan Hizbullah, yang menyeret negara itu ke dalam perang dengan menyerang Israel pada awal Maret sebagai pembalasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.