Terus Digempur Israel, Presiden Lebanon Akui Bakal Lakukan Hal 'Mustahil' Hentikan Perang
JAKARTA - Presiden Lebanon Joseph Aoun mengaku akan melakukan hal yang "mustahil" untuk menghentikan perang dengan Israel.
“Kerangka kerja yang telah ditetapkan Lebanon untuk negosiasi terdiri dari penarikan Israel, gencatan senjata, pengerahan tentara di sepanjang perbatasan, pemulangan pengungsi, dan bantuan ekonomi,” kata Aoun dalam sebuah pernyataan pada Senin 18 Mei, dikutip dari AFP.
Komentar Aoun muncul ketika tentara Israel terus melakukan serangkaian serangan di Lebanon selatan, sementara Hizbullah mengatakan telah menyerang target militer di Israel utara.
Sejak dimulainya gencatan senjata pada 17 April, Israel terus melanggarnya dengan melancarkan serangan, melakukan penghancuran, dan mengeluarkan perintah evakuasi di Lebanon selatan. Lagi-lagi pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel berdalih menargetkan kelompok Hizbullah tetapi korban jiwa sipil terus berjatuhan.
Hizbullah juga mempertahankan operasinya untuk menghalau pasukan Israel terus melakukan agresi darat di Lebanon selatan dan Israel utara.
“Tugas saya, berdasarkan posisi dan tanggung jawab saya, adalah melakukan hal yang mustahil, dan memilih apa yang paling murah, untuk menghentikan perang melawan Lebanon dan rakyatnya,” tambahnya.
Baca juga:
- Live Bareng Komandan IRGC, Presenter TV Iran Menembak ke Arah Bendera UEA
- Penyelidikan Prancis Temukan 10 Korban Baru Jaringan Predator Seks Epstein
- Trump Jadikan Pasokan Senjata AS ke Taiwan Alat Tawar ke China, Presiden Lai Desak Realisasi
- Taiwan Menanti Pasokan Senjata Besar-besaran AS Usai Trump Kunjungi China
Pekan lalu, Lebanon dan Israel ditengahi AS di Washington sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata selama 45 hari. Namun, gencatan senjata gagal menghentikan kekerasan yang dilakukan militer Israel setelah melancarkan serangkaian serangan di seluruh wilayah selatan.
Militer Israel juga mengeluarkan peringatan evakuasi untuk tiga kota di Lebanon selatan.
Serangan-serangan itu terjadi sehari setelah Israel menewaskan tujuh orang di Lebanon, termasuk seorang anggota kelompok Islam Palestina di timur laut negara itu, jauh dari perbatasan Israel-Lebanon.
Sementara Hizbullah pada Senin 18 Mei mengatakan telah menembakkan drone ke sasaran militer di Israel utara.
Sasarannya adalah “platform Iron Dome milik tentara musuh Israel” yang berbasis di sebuah perkemahan militer di Israel utara, kata Hizbullah, merujuk pada sistem pertahanan udara Israel.
Hiszbulah beralasan serangan itu merupakan tanggapan terhadap “pelanggaran” gencatan senjata oleh Israel.