Buana Finance Bidik Peluang Besar Keuangan Syariah di Indonesia
JAKARTA - PT Buana Finance Tbk (BBLD) akan memperluas kegiatan usahanya dengan membentuk Unit Usaha Syariah (UUS).
Keputusan tersebut disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Senin, 18 Mei 2026.
Dalam rapat tersebut, para pemegang saham juga menyetujui penggunaan laba bersih tahun buku 2025 serta pembagian dividen kepada pemegang saham.
Sekretaris Perusahaan Buana Finance Ahmad Khaetami mengatakan bahwa salah satu hasil utama RUPST adalah persetujuan pembentukan Unit Usaha Syariah.
Ia menegaskan bahwa UUS tersebut akan berbentuk unit usaha di bawah PT Buana Finance dan bukan merupakan spin off perusahaan.
"Hasil RUPS 2026 di antaranya yang pertama adalah penambahan kegiatan unit usaha syariah atau biasa disingkat UUS ya ini bentuknya unit usaha ya bukan spin off tapi berbentuk unit usaha jadi di bawah induk PT Buana Finance," jelasnya dalam konferensi pers.
Selain itu, RUPST juga menyetujui pengangkatan kembali seluruh Dewan Komisaris serta pengangkatan Dewan Pengawas Syariah (DPS) dan pembentukan DPS merupakan kewajiban yang harus dipenuhi sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) seiring pembentukan Unit Usaha Syariah.
Ahmad menjelaskan bahwa proses pengangkatan DPS akan dilanjutkan dengan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) serta pemenuhan persyaratan regulator lainnya.
Sementara itu, Direktur Marketing Buana Finance Herman Lesmana mengatakan bahwa Unit Usaha Syariah Buana Finance akan fokus pada sektor business-to-business (B2B).
"Potensi masyarakat Indonesia yang mengunakan syaraih itu sebenarnya opportunity-nya besar, cuma penggunanya masih cukup sedikit," katanya.
Dia menambahkan saat ini baru sekitar 12 persen masyarakat yang menggunakan produk keuangan syariah, padahal sekitar 45 persen masyarakat telah memahami produk tersebut.
Herman berharap Dewan Pengawas Syariah segera memperoleh persetujuan regulator sehingga operasional UUS dapat mulai berjalan pada kuartal III 2026.
"Semoga nanti DPS (Dewan Pengawas Syariah) meman sudah dapat izin dari regulator, sehingga kami bisa menjalani sekitar di kuartal III-2026," tuturnya.
Secara keseluruhan, Buana Finance menargetkan penyaluran pembiayaan tumbuh 10,66 persen secara tahunan, dari realisasi tahun 2025 sebesar Rp4,29 triliun menjadi Rp4,75 triliun pada 2026.
"Terbagi dari memang keseluruhan penyaluran pembiayaan yang tentunya di dalamnya ada multiguna yaitu refinancing, itu akan kami tingkatkan, kenaikan 16,89 persen," ucapnya.
Adapun hingga akhir 2026, pembiayaan refinancing ditargetkan mencapai Rp3,63 triliun, meningkat dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp3,01 triliun.
Herman menjelaskan bahwa porsi pembiayaan refinancing saat ini masih mendominasi dibandingkan pembiayaan konsumen dan kendaraan baru.
"Kami fokuskan ke refinancing atau multiguna dengan memfokuskan kepada track record yang sebelumnya maupun kondisi kapasitas daripada calon debitor kami," ungkapnya.
Dalam menjalankan bisnis tahun 2026, kata dia, perseroan akan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian guna menjaga kualitas portofolio pembiayaan, terutama dengan memperhatikan rekam jejak dan kapasitas calon debitur.
Sebagai informasi sepanjang tahun 2025, Buana Finance mencatat penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp3,11 triliun pada segmen pembiayaan konsumen, serta Rp1,18 triliun pada segmen sewa pembiayaan dan anjak piutang.
Per 31 Desember 2025, total aset Perseroan tercatat sebesar Rp7,15 triliun atau tumbuh 7,72 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp6,63 triliun.
Pertumbuhan aset tersebut terutama didorong oleh kenaikan piutang pembiayaan sebesar 7,05 persen, dari Rp6,14 triliun menjadi Rp6,57 triliun.
Kontribusi terbesar aset Perseroan berasal dari piutang pembiayaan konsumen dengan porsi 79,20 persen, disusul piutang sewa pembiayaan dan anjak piutang sebesar 12,71 persen.
Meski menghadapi kondisi makroekonomi yang belum sepenuhnya pulih, Perseroan tetap mampu menjaga ketahanan bisnis yaitu pada tahun 2025, Buana Finance membukukan laba bersih sebesar Rp13,48 miliar.
Adapun penurunan laba bersih terutama dipengaruhi oleh peningkatan beban penyisihan kerugian penurunan nilai sebesar 44,71 persen.
Selain itu, tingkat piutang bermasalah atau Non Performing Financing (NPF) meningkat menjadi 3,12 persen pada akhir 2025, dibandingkan 1,97 persen pada tahun sebelumnya.
Baca juga:
Untuk menjaga kualitas aset, Perseroan terus memperkuat langkah mitigasi risiko dan mengoptimalkan strategi penagihan.
Selain itu, Buana Finance juga berkomitmen meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan portofolio bisnis, serta memperkuat strategi keuangan guna mendukung pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham.