Mogok Serikat Samsung Ancam Produksi Cip dan Ekonomi Korea
JAKARTA - Serikat pekerja terbesar Samsung Electronics tetap akan menggelar mogok besar pekan depan. Mengutip Yonhap, Jumat, 15 Mei, keputusan itu diambil meski manajemen menawarkan dialog tanpa syarat.
Mogok direncanakan berlangsung 18 hari mulai Kamis pekan depan. Jika berjalan penuh, aksi ini berpotensi mengganggu produksi Samsung, pembuat cip memori terbesar di dunia.
Ketua serikat pekerja terbesar Samsung Electronics, Choi Seung-ho, mengatakan pihaknya baru bersedia berdialog setelah 7 Juni, sehari setelah jadwal mogok berakhir.
“Kami bermaksud menggunakan hak yang dijamin oleh Konstitusi,” kata Choi, seperti dikutip Yonhap.
Perundingan yang dimediasi pemerintah selama dua hari berakhir tanpa kesepakatan pada Rabu. Pihak pekerja dan manajemen masih berbeda tajam soal bonus berbasis kinerja dari bisnis semikonduktor terkait kecerdasan buatan atau AI.
Baca juga:
Serikat menuntut bonus kinerja tetap sebesar 15 persen dari laba operasi divisi semikonduktor Samsung. Mereka juga meminta batas maksimum pembayaran bonus dihapus.
Manajemen menawarkan skema lain. Samsung ingin mempertahankan sistem insentif kelebihan laba yang berlaku sekarang. Perusahaan juga membuka opsi perhitungan bonus berdasarkan 10 persen laba operasi atau nilai tambah ekonomi, yang dikenal sebagai EVA.
EVA adalah ukuran nilai ekonomi yang dihasilkan perusahaan setelah memperhitungkan biaya modal. Dengan skema itu, perusahaan ingin struktur bonus lebih fleksibel. Serikat ingin rumus yang lebih pasti.
Choi sebelumnya mengatakan sekitar 41.000 anggota serikat siap ikut mogok umum. Jumlah itu bisa naik menjadi lebih dari 50.000 orang.
Pemerintah Korea Selatan khawatir. Mogok di Samsung dinilai perlu dihindari karena dapat menimbulkan risiko besar bagi pertumbuhan ekonomi. Korea Selatan sangat bergantung pada ekspor, dan semikonduktor menjadi salah satu penopangnya.
Para pengamat, menurut Yonhap, memperkirakan, jika mogok skala penuh terjadi, kerugian ekonomi Korea Selatan bisa mencapai 100 triliun won atau sekitar 66,7 miliar dolar AS.
Risiko itu muncul saat Samsung sedang mencatat kinerja kuat. Pada kuartal pertama, raksasa teknologi tersebut membukukan rekor laba operasi 57 triliun won. Pengamat pasar memperkirakan laba operasi setahun penuh dapat mencapai sekitar 300 triliun won.
Ekspor Korea Selatan juga mencetak rekor 219,9 miliar dolar AS pada kuartal pertama 2026. Kenaikan itu didorong permintaan global untuk pusat data AI.
Ekspor semikonduktor menjadi penyumbang utama. Nilainya melonjak 139 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi 78,5 miliar dolar AS, seiring percepatan investasi server terkait AI.
Karena itu, mogok Samsung tidak berhenti sebagai urusan internal perusahaan. Bila produksi cip terganggu, dampaknya dapat merembet ke rantai pasok semikonduktor yang menopang pusat data, perangkat elektronik, dan industri teknologi lain.