30 Anggota Brimob Polda Metro Jaga Ketat Kantor Judi Online di Ruko Hayam Wuruk
JAKARTA - Polda Metro Jaya menyiagakan satu pleton personel untuk menjaga lokasi perkantoran Hayam Wuruk, Jakarta Barat, yang menjadi tempat kejadian perkara (TKP) tindak pidana perjudian daring atau judi online jaringan internasional yang melibatkan 321 warga negara asing (WNA).
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto menjelaskan penjagaan tersebut merupakan bagian dari langkah pengamanan pascapenindakan yang telah dilakukan sebelumnya.
"Kehadiran personel di lokasi bertujuan untuk memastikan situasi tetap aman, tertib, dan kondusif, serta mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas," katanya dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Budi menyebutkan personel yang disiagakan sebanyak 1 pleton atau 30 personel Brimob Polda Metro Jaya. Adapun terkait durasi penjagaan, pelaksanaannya bersifat situasional dengan mempertimbangkan dinamika dan kebutuhan pengamanan di lapangan.
Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia (Bareskrim Polri) menangkap sebanyak 321 warga negara asing (WNA) terkait tindak pidana perjudian daring atau online jaringan internasional di lokasi perkantoran Hayam Wuruk, Jakarta.
Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Polisi Wira Satya Triputra mengatakan penangkapan tersebut merupakan tindak lanjut dari serangkaian penyelidikan yang panjang dengan adanya informasi dari masyarakat.
Baca juga:
"Dari hasil penyelidikan tersebut, kami menemukan dugaan adanya aktivitas perjudian yang dilakukan secara terorganisir dan melibatkan warga negara asing dari berbagai macam negara," ucap Brigjen Pol. Wira dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu.
Ia menjelaskan pelaksanaan penangkapan para WNA telah dilakukan pada Kamis (7/5). Saat ini, pemeriksaan terhadap para pelaku yang ditangkap masih terus berlanjut.
Wira menyebut para pelaku ditangkap dalam keadaan tertangkap tangan atau sedang melakukan operasional kegiatan judi daring.
Secara perinci, para pelaku yang ditangkap meliputi sebanyak 57 orang merupakan warga negara China, 228 orang warga negara Vietnam, 11 orang warga negara Laos, 13 orang warga negara Myanmar, tiga orang masing-masing warga negara Malaysia dan Kamboja, serta lima orang warga negara Thailand.