Iran Tuduh AS Lancarkan Serangan ke Wilayahnya dan Langgar Gencatan Senjata

JAKARTA - Iran menuduh Amerika Serikat melakukan serangan di wilayahnya dan melanggar kesepakatan gencatan senjata menyusul konflik yang pecah pada Februari lalu.

Tuduhan datang setelah media semi resmi Iran melaporkan adanya ledakan di wilayah negara itu pada Kamis malam.

Seorang juru bicara angkatan bersenjata Iran mengatakan serangan udara AS menghantam daerah sipil di sepanjang pantai Pulau Qeshm, Bandar Khamir dan Sirik, seperti dilansir dari CNN (8/5).

Ia juga mengklaim AS melanggar gencatan senjata dengan menargetkan kapal tanker minyak Iran yang menuju Selat Hormuz.

Iran menanggapi dengan "tindakan balasan" dengan menyerang kapal-kapal militer AS di sebelah timur selat dan selatan pelabuhan Chabahar, kata juru bicara tersebut dalam video yang disiarkan oleh media pemerintah.

Sebelumnya, Kantor Berita Mehr Iran mengatakan ledakan terdengar di daerah Bandar Abbas dan Qeshm, tetapi menambahkan "tidak ada badan resmi yang berkomentar tentang penyebab suara-suara ini."

Sedangkan Kantor Berita Tasnim semi-resmi berspekulasi, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, bahwa Uni Emirat Arab mungkin berada di balik serangan di Qeshm tetapi mengatakan ini belum dikonfirmasi.

CNN telah meminta komentar dari Komando Pusat AS dan Uni Emirat Arab.

Sementara itu, Nour News, sebuah media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam, mengatakan dermaga penumpang di Pulau Qeshm dilaporkan terkena serangan.

Kantor Berita Fars Iran juga melaporkan warga di Bandar Abbas mendengar suara yang menyerupai ledakan dari berbagai bagian kota.

Diketahui, ketegangan regional telah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu pembalasan dari Teheran terhadap Israel serta sekutu AS di Teluk, bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng. Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditetapkan.

Sejak 13 April, AS telah memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di selat tersebut.