Gubernur BI Sebut Rupiah Undervalue, BI Yakin Stabil dan Menguat

JAKARTA — Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebut nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue. Namun, BI meyakini rupiah akan stabil dan cenderung menguat karena fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat.

Perry menyampaikan hal itu setelah mengikuti rapat bersama Presiden di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 5 Mei.

“Nilai tukar sekarang itu undervalue. Ke depan kita yakini akan stabil dan menguat,” kata Perry.

Menurut Perry, keyakinan itu didukung sejumlah indikator. Pertumbuhan ekonomi disebut mencapai 5,61 persen, inflasi rendah, kredit tumbuh tinggi, dan cadangan devisa kuat. “Fundamental kita itu kuat,” ujarnya.

Perry menjelaskan tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek terutama berasal dari faktor global dan musiman. Dari sisi global, tekanan datang dari harga minyak yang tinggi, kenaikan suku bunga Amerika Serikat, yield US Treasury 10 tahun yang mencapai 4,47 persen, serta penguatan dolar AS.

Selain itu, terjadi pelarian modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari sisi musiman, Perry menyebut permintaan dolar biasanya meningkat pada April, Mei, dan Juni. Kebutuhan itu antara lain untuk repatriasi dividen, pembayaran utang, dan keperluan jemaah haji.

Meski begitu, Perry menegaskan posisi BI tidak berubah. Rupiah dinilai masih terlalu murah dibandingkan fundamental ekonomi Indonesia.

“Tapi rupiah adalah undervalue dan ke depan akan stabil dan cenderung menguat,” kata Perry.