Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, Polisi Periksa 31 Saksi untuk Ungkap Penyebab

JAKARTA - Kecelakaan kereta api yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) menjadi perhatian publik setelah menelan banyak korban jiwa.

Insiden beruntun yang melibatkan kendaraan di perlintasan sebidang hingga tabrakan antarkereta tersebut kini masih dalam proses penyelidikan oleh pihak kepolisian.

Polda Metro Jaya telah memeriksa puluhan saksi untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan tersebut. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Budi Hermanto, menyampaikan bahwa "Hingga saat ini, penyidik telah meminta keterangan terhadap 31 orang, yang terdiri atas pelapor, pengemudi taksi, penjaga palang, saksi di sekitar lokasi, korban, petugas operasional PT KAI, serta pihak-pihak lain yang mengetahui langsung peristiwa tersebut.”

Budi menjelaskan, penanganan kasus kini telah memasuki tahap penyidikan dan ditangani oleh Subdit Kamneg Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Ia menambahkan, “Sejauh ini, penyidik telah melakukan cek tempat kejadian perkara, pengumpulan barang bukti, pendalaman rekaman CCTV, koordinasi dengan rumah sakit terkait korban, permintaan visum, serta pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan pihak-pihak terkait lainnya.”

Ke depan, penyidik masih akan meminta keterangan tambahan dari sejumlah pihak, seperti dinas terkait hingga instansi perkeretaapian. Langkah ini dilakukan untuk melengkapi proses penyidikan agar gambaran kejadian dapat terungkap secara menyeluruh dan objektif.

Diketahui, kecelakaan yang terjadi pada Senin malam tersebut mengakibatkan 16 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa bermula dari sebuah taksi yang mengalami gangguan kelistrikan hingga mogok di tengah perlintasan sebidang.

Kendaraan tersebut kemudian tertabrak KRL yang melintas. Akibat kejadian itu, rangkaian KRL tujuan Cikarang melakukan penghentian darurat di stasiun. Namun dalam kondisi berhenti, kereta tersebut justru ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.

Benturan keras itu menyebabkan gerbong belakang, yang merupakan gerbong khusus wanita, mengalami kerusakan parah dan menimbulkan banyak korban jiwa.