Mengintip Cuan dari Hama Perairan
JAKARTA – Ikan sapu-sapu selama ini lebih sering dianggap sebagai hama perairan dan jarang dimanfaatkan sebagai sumber ekonomi oleh masyarakat. Padahal, keberadaannya yang melimpah di sungai dan waduk justru membuka peluang usaha yang belum banyak digarap orang. Kondisi ini menciptakan celah pasar yang bisa dimanfaatkan, tanpa harus khawatir menghadapi persaingan ketat.
Hal inilah yang diungkap pegiat lingkungan, Arief Kamarudin, yang berharap agar penangkapan massal ikan sapu-sapu seperti digalakkan Pemprov DKI Jakarta perlu dibarengi dengan pendekatan berkelanjutan, seperti adanya penelitian untuk mencari nilai ekonomi dari ikan sapu-sapu agar upaya pengendalian bisa berjalan konsisten.
“Kalau saran dari saya kita harus teliti dulu. Sampai sejauh ini kan kita belum tahu (ikan) sapu-sapu itu bisa dimanfaatkan untuk apa ya gitu kita harus teliti dulu. Siapa tahu ikan sapu-sapu bisa dimanfaatkan untuk hal yang bisa dapat duit. Misalnya ikan sapu-sapu ternyata bisa dijadikan pupuk gitu kan. Pupuk itu kan bisa dijual ya kalau ada nilai ekonomisnya nanti pasti bakal banyak yang nyari tuh karena karena kalau misalnya kita cuma musnahin doang saya sih yakin kegiatannya nggak akan berlangsung lama,” terangnya.
Baca juga:
Menurut Arif, bila ikan sapu-sapu ternyata memiliki nilai jual, masyarakat akan terdorong untuk ikut menangkap tanpa perlu instruksi khusus. Sebaliknya, jika hanya dimusnahkan tanpa manfaat ekonomi, upaya tersebut berpotensi tidak bertahan lama, karena membutuhkan biaya besar dan waktu panjang.
Sebenarnya, penelitian terkait potensi ekonomi ikan sapu-sapu pernah dilakukan. Dalam penelitian berjudul “Kandungan Nutrisi Abon Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys Pardalis) Asal Sungai Ciliwung, Indonesia” yang termuat dalam Jurnal Pengolahan Pangan 7, No. 1, tanggal 29 Juni 2022, Handhini Dwi Putri dkk mengungkapkan bahwa ikan sapu-sapu memiliki kandungan protein yang tinggi yakni lebih dari 20 persen dan kandungan lemak yang rendah, kurang dari 5 persen. Hal tersebut membuat ikan sapu-sapu berpotensi menjadi bahan baku pengolahan makanan seperti abon.
Melalui metode penelitian berupa analisis proksimat seperti pengukuran kadar abu, kadar air, protein menggunakan metode Kheldahl dan lemak menggunakan metode ekstraksi, diperoleh hasil kandungan nutrisi diperoleh kadar abu 5,47 persen, kadar air 2,24 persen, protein 39,08 persen dan lemak 30,59 persen. “Kadar abu, air dan protein memenuhi persyaratan mutu abon SNI 7690.1 2013. Sedangkan, lemak tidak memenuhi persyatan abon sesuai SNI,” demikian kesimpulan dari penelitian tersebut.
Sementara dikutip dari laman halodoc, ikan sapu-sapu yang berasal dari perairan bersih kaya akan protein, mineral, dan asam lemak esensial yang mendukung berbagai fungsi tubuh. Ikan sapu-sapu mengandung sekitar 15,20 persen protein yang merupakan makronutrien penting yang berfungsi untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, membentuk enzim, serta hormon.
Kandungan kalsium dan fosfor yang tinggi dalam ikan sapu-sapu sangat bermanfaat untuk menjaga kepadatan tulang dan gigi. Asupan mineral ini penting untuk mencegah risiko osteoporosis di kemudian hari. Ikan sapu-sapu diketahui mengandung asam lemak omega-3 dan omega-6 yang dikenal baik untuk kesehatan jantung, membantu menjaga fungsi pembuluh darah, dan mendukung perkembangan serta fungsi otak. Selain itu, kandungan vitamin B, seperti B1, B2, B3, B6, dan B12, dalam ikan sapu-sapu berkontribusi dalam proses metabolisme tubuh.
Meski demikian, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, mengingatkan bahwa masyarakat harus memperhatikan asal ikan sapu-sapu sebelum mengonsumsi olahan ikan sapu-sapu. Sebab, ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar berisiko membawa zat berbahaya.
Dia menjelaskan, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan menyerap zat dari lingkungannya, termasuk logam berat jika hidup di perairan yang tercemar. Konsumsi ikan dari sungai atau perairan yang terkontaminasi limbah industri atau domestik berisiko tinggi menyebabkan paparan logam berat seperti merkuri, timbal, atau kadmium. “Paparan logam berat dalam jangka panjang dapat berdampak buruk bagi kesehatan, termasuk kerusakan organ dan masalah neurologis,” tukasnya.
Penelitian Lanjutan untuk Menggali Nilai Guna Ikan Sapu-Sapu
Selain olahan untuk konsumsi manusia, ikan sapu-sapu juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak, pupuk organik cair hingga pakan budidaya lalat BSF. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Haeru Rahayu, mengakui bila ikan sapu-memang sebenarnya memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Setidaknya, beberapa pihak telah mengkaji kemungkinan pengolahan ikan ini menjadi pupuk organik atau bahan baku tepung ikan.
Namun, pemanfaatan ini belum dapat dilakukan secara luas. Salah satu kendala utama adalah kekhawatiran terhadap kandungan zat berbahaya di dalam tubuh ikan sapu-sapu, terutama yang hidup di perairan tercemar.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu dapat mengakumulasi logam berat seperti timbal, merkuri, dan kadmium. Zat-zat ini berbahaya bagi kesehatan manusia jika masuk ke dalam rantai makanan. Bahkan, proses pengolahan dengan suhu tinggi tidak sepenuhnya mampu menghilangkan kandungan tersebut,” ungkap Haeru.
Dia menyatakan, bila ikan sapu-sapu diolah menjadi pakan, lalu dikonsumsi oleh ikan lain yang akhirnya dimakan manusia, maka risiko paparan zat berbahaya tetap ada. Inilah yang menjadi alasan utama mengapa pemanfaatan ikan sapu-sapu masih dibatasi hingga saat ini. “Karena itu, KKP terus berkoordinasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengkaji pemanfaatan ikan sapu-sapu agar memiliki nilai guna lebih,” tutupnya.