Korsel Belum Terima Permintaan Biaya Iran untuk Lintasi Hormuz
JAKARTA - Korea Selatan menyatakan belum menerima permintaan resmi apa pun dari Iran terkait biaya melintas di Selat Hormuz. Di saat yang sama, pemerintah masih memantau situasi di jalur pelayaran penting itu di tengah rapuhnya gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran.
Dikutip dari Yonhap, Kamis, 9 April, pernyataan itu disampaikan Wakil Menteri Perdagangan, Industri, dan Keamanan Sumber Daya Korea Selatan, Yang Ghi-wuk, dalam jumpa pers rutin soal pasokan energi pada Kamis.
“Belum ada permintaan dari Iran terkait biaya transit atau pembayaran,” kata Yang. Ia menanggapi laporan media yang menyebut Teheran meminta pembayaran dalam mata uang kripto atau yuan China dari kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Menurut Yang, masih terlalu dini untuk memastikan apakah Iran benar-benar akan mengenakan biaya tersebut dan bagaimana respons komunitas internasional jika itu terjadi. Ia juga mengatakan harga bahan bakar di Korea Selatan bisa naik hingga 1 persen bila pungutan semacam itu benar-benar diberlakukan.
Baca juga:
Soal kondisi Selat Hormuz dan syarat pelayaran yang aman, Yang mengatakan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan masih berupaya berkomunikasi dengan Iran. Namun, sampai saat ini ia belum mendapat informasi mengenai perkembangan berarti.
Pemerintah Korea Selatan juga terus menyiapkan pasokan minyak mentah alternatif. Untuk April, telah diamankan 50 juta barel. Untuk Mei, jumlahnya 60 juta barel. Pasokan untuk bulan-bulan berikutnya juga sedang disiapkan.
Volume yang diamankan untuk April dan Mei itu setara sekitar 60 persen dan 70 persen dari tingkat impor bulanan normal Korea Selatan yang mencapai 80 juta barel, menurut laporan Yonhap.
Kementerian Perdagangan Korea Selatan juga menyebut pasokan bahan untuk industri dan kebutuhan sehari-hari, seperti helium dan gas etilena, sejauh ini belum mengalami gangguan besar.