Filter Kekayaan vs Kecerdasan
JAKARTA - Dunia saat ini menghabiskan $100 miliar setiap tahun untuk pendidikan kedokteran. Pada tingkat mikroekonomi, biaya kuliah sekolah kedokteran di banyak negara sekarang mencapai $14.000 per tahun. Ini akan tampak seperti jumlah yang sangat besar bagi seorang lulusan sekolah menengah berusia 18 tahun dari latar belakang keuangan rata-rata. Depresi ekonomi membuat angka tersebut tampak lebih besar lagi, bagi negara dan bagi individu.
Ketika suatu produk atau layanan mahal, kita secara alami berasumsi bahwa hal itu karena biaya produksi atau penyediaannya sangat tinggi. Namun, hal itu tidak selalu benar. Biaya kuliah adalah contohnya. Biaya kuliah telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, tetapi mungkin saja kenaikan tersebut bukanlah kenaikan yang sebenarnya.
Biaya kuliah naik, tetapi jumlah pinjaman mahasiswa dengan bunga rendah juga meningkat – logika menunjukkan bahwa kenaikan biaya kuliah menyebabkan kenaikan pinjaman mahasiswa – tetapi mungkinkah yang terjadi sebaliknya? Apa yang akan terjadi pada harga rumah jika pemerintah menjamin pinjaman dengan bunga sangat rendah kepada siapa pun yang ingin membeli rumah. Harga rumah secara alami akan naik. Mungkinkah ketersediaan pinjaman dengan bunga sangat rendah yang meluas juga mendorong inflasi biaya kuliah?
Berdasarkan jurnal kesehatan dan situs National Library of Medicine, faktor lain yang dapat mendorong harga dan tidak terkait dengan biaya produksi adalah permintaan. Jika permintaan barang atau jasa meningkat, maka harga juga akan meningkat. Tentu saja, permintaan akan pendidikan kedokteran sangat tinggi. Rasio pelamar sekolah kedokteran terhadap kandidat yang diterima adalah 16:1. Tidak mengherankan jika dengan tingkat persaingan seperti ini harga akan naik.
Baca juga:
Seiring dengan permintaan, muncullah penawaran. Penawaran yang terbatas juga mendorong harga. Sebagian besar sekolah kedokteran hanya diperbolehkan menerima sejumlah mahasiswa yang terbatas setiap tahunnya sehingga penawarannya terbatas. Bahkan jika sekolah diizinkan untuk menerima lebih banyak mahasiswa, maka model pendidikan tradisional yang masih digunakan oleh banyak dari mereka akan berarti bahwa mereka tidak dapat memberikan pendidikan yang sama kepada lebih banyak mahasiswa secara signifikan. Hanya dengan memikirkan kembali model penyediaan pendidikan mereka dapat mencapai hal ini. Pergerakan menuju kursus daring terbuka besar-besaran (MOOC) menunjukkan bahwa beberapa institusi sedang memikirkan kembali model mereka, tetapi penyediaan MOOC dalam konteks pendidikan kedokteran membawa masalah tersendiri.
Anak Buruh dan Petani Sulit Menjadi Dokter?
Pendidikan kedokteran di Indonesia sedang berada di persimpangan jalan yang mengkhawatirkan. Di satu sisi, negara ini mengalami defisit jumlah dokter yang kronis—dengan rasio hanya 0,69 dokter per 1.000 penduduk jauh di bawah standar WHO 1:1.000—namun di sisi lain, akses menuju profesi ini kian menyerupai klub eksklusif yang hanya bisa dimasuki oleh mereka dengan kekuatan finansial mahadahsyat. Fenomena ini bukan lagi sekadar soal biaya pendidikan, melainkan sebuah filtrasi sosial yang sistematis.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa biaya masuk Fakultas Kedokteran (FK), terutama melalui jalur mandiri di berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun swasta, telah menyentuh angka fantastis. Di beberapa kampus, Iuran Pengembangan Institusi (IPI) atau uang pangkal dapat berkisar antara Rp120 juta hingga ratusan juta rupiah, bahkan di universitas swasta tertentu total biaya bisa menembus miliar rupiah.
Sekretaris Umum Asosiasi Institut Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI), Riyani Wikaningrum, memang berargumen bahwa tingginya biaya tersebut sebanding dengan mahalnya operasional laboratorium dan bahan praktik. Namun, ketika angka-angka ini menjadi "pagar" yang tidak mungkin dilompati oleh anak buruh atau petani yang cerdas, maka pendidikan kedokteran telah bergeser dari meritokrasi akademik menuju aristokrasi finansial.
Kekhawatiran terbesar dari fenomena ini adalah lahirnya generasi dokter yang memiliki orientasi profit sentris. Pengamat pendidikan dari Tamansiswa, Ki Darmaningtyas, memperingatkan bahwa komersialisasi pendidikan yang kian vulgar akan memaksa lulusannya untuk memikirkan cara tercepat untuk mendapatkan Return on Investment (ROI).
Logikanya sederhana namun mengerikan: jika seseorang harus mengeluarkan Rp1 miliar untuk menjadi dokter, kecil kemungkinan mereka akan bersedia ditempatkan di pelosok daerah dengan gaji kecil atau memberikan layanan pengobatan gratis. Sistem ini secara tidak langsung "membunuh" karakter idealis sejak dari bangku kuliah.
Wakil Ketua II Konsil Kedokteran Indonesia, Satryo Soemantri Brodjonegoro, bahkan mencatat bahwa dominasi kekuatan dana sering kali mengesampingkan mutu karakter dan kelayakan akademik, yang berujung pada menurunnya standar kompetensi.
Namun pertanyaan itu di atas segera ditepis oleh fakta. Pemuda yang dulunya hanya anak petani kentang namun kini bisa menjadi dokter gigi sekaligus musisi. Dua macam profesi tersebut dia anggap sebagai pekerjaan yang profesional.
Pria yang akrab disapa dengan Nova ini sejak kecil telah membantu orang tuanya bekerja. Orangtua Nova hanya bekerja sebagai petani kentang di desa Patak Banteng, Dieng, Wonosobo. Sejak SD, anak dari tiga bersaudara ini sering membantu orang tuanya turun ke perkebunan kentang untuk menanam hingga memanen kentang.
"Dari SD saya dan dua adik saya sudah disuruh orang tua untuk bantu-bantu di kebun. Ya menanam kentang. Pas waktunya panen mau nggak mau saya juga harus ikut bantu-bantu pilih kentang yang bagus. Setelahnya baru dijual ke pasar-pasar yang ada di kota (Wonosobo)," kata Nova saat ditemui di Pecenongan, Jakarta Pusat.
Dengan kehidupan yang pas-pasan dan tidak menentu, akhirnya setelah lulus SD Nova dipindahkan oleh orang tuanya ke kota Wonosobo untuk mencari SMP yang baik. Menurut Nova pada saat itu, orang tuanya ingin dia bisa bersekolah lebih baik lagi, agar kelak Nova tidak menjadi petani lagi seperti orang tuanya. Seperti yang diketahui, orang tua Nova tidak berpendidikan tinggi dulunya.
Nova selalu percaya, bahwa tak ada yang tak mungkin jika seseorang mau berusaha dan bekerja keras. Apa yang ia lakukan selama ini adalah suatu pembuktian bahwa orang kecil pun bisa menjadi besar. Terus berdoa dan berusaha agar berguna nantinya.
"Nggak ada yang nyangka, dulunya saya cuma anak petani kentang yang sangat pas-pasan. Sekarang saya bisa mengabdi kerja di bidang kedokteran,"ujarnya.
Ancaman bagi Ketahanan Kesehatan Nasional
Jika profesi dokter hanya diisi oleh kelas ekonomi atas, maka ketimpangan distribusi tenaga medis akan terus menjadi luka menganga. Data menunjukkan Indonesia diprediksi kekurangan 70.000 dokter spesialis pada 2032. Namun, dokter-dokter "mahal" ini cenderung akan berkumpul di kota-kota besar demi mengejar balik modal melalui praktik swasta yang menguntungkan, meninggalkan masyarakat di daerah terpencil tanpa layanan kesehatan yang memadai.
Pendidikan kedokteran seharusnya menjadi instrumen mobilitas vertikal bagi anak-anak bangsa yang cerdas, bukan alat reproduksi kelas bagi mereka yang sudah mapan. Tanpa intervensi serius dari pemerintah untuk mensubsidi biaya pendidikan kedokteran secara signifikan atau memperluas skema beasiswa penuh dengan ikatan dinas, kesehatan di negeri ini akan tetap menjadi komoditas mewah yang hanya bisa diakses oleh mereka yang dompetnya tebal.
"Kita tidak butuh sekadar dokter yang kaya raya, kita butuh dokter yang hadir karena panggilan jiwa, tanpa harus terbebani utang miliaran rupiah saat baru saja mengucap sumpah," katanya.