BYD Kena Imbas Kebijakan Baru Jepang, Subsidi EV Anjlok Tajam

JAKARTA - Penetrasi kendaraan listrik di Jepang masih tergolong rendah, dengan kontribusi kurang dari 2 persen terhadap penjualan mobil baru. Meski demikian, hal itu tidak menghalangi produsen kendaraan listrik asal China, BYD.

BYD mencoba peruntungannya dengan meluncurkan mobil kei listrik pada tahun lalu demi menembus pasar domestik. Namun, upaya tersebut kini menghadapi tantangan besar.

Pemerintah Jepang diketahui memangkas subsidi untuk kendaraan BYD secara signifikan, menjadi hanya 150.000 yen atau sekitar Rp16 jutaan. Angka ini turun drastis dibandingkan sebelumnya yang berkisar antara 350.000 yen hingga 400.000 yen, atau sekitar Rp37 hingga Rp42 jutaan.

Langkah ini tak lepas dari revisi kebijakan subsidi kendaraan listrik di Jepang yang kini lebih memprioritaskan kendaraan dengan baterai produksi lokal. Sementara itu, model BYD masih mengandalkan baterai buatan China.

Kebijakan tersebut dinilai sebagai upaya Jepang untuk memperkuat industri otomotif dalam negeri di tengah gempuran produsen China yang tengah berkembang pesat secara global, termasuk BYD yang kini menempati posisi produsen mobil terbesar keenam di dunia.

Dalam skema baru tersebut, Toyota bZ4X tetap memperoleh subsidi tertinggi hingga 1,3 juta yen atau Rp138 juta. Nissan Ariya yang sebelumnya mendapatkan subsidi 1,29 juta yen juga akan mengalami penyesuaian menjadi 1 juta yen mulai 2027.

Menariknya, dukungan pemerintah Jepang tidak hanya mengalir ke merek lokal. Tesla justru mendapatkan kenaikan subsidi sebesar 400.000 yen menjadi 1,27 juta yen, yang diduga berkaitan dengan penggunaan baterai dari Panasonic.

Melansir dari Carscoops, Selasa, 31 Maret, Audi juga menikmati peningkatan subsidi sekitar 320.000 yen hingga menembus angka lebih dari 1 juta yen. Sementara itu, sejumlah model kendaraan listrik Hyundai turut memperoleh kenaikan insentif pada bulan ini.

Seperti dilaporkan Nikkei Asia, peningkatan subsidi tersebut tidak akan berlaku permanen. Mulai Januari mendatang, bantuan untuk sejumlah merek seperti Audi dan Hyundai akan kembali dipangkas, meskipun besaran pengurangannya belum diumumkan.

Sebelum kebijakan pemangkasan terbaru ini diberlakukan, BYD sebenarnya sudah mengakui posisinya yang kurang kompetitif di Jepang. “Kami berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan,” ujar kepala unit Jepang perusahaan tersebut, Atsuki Tofukuji.

“Selisih harga [dengan perusahaan seperti Toyota Motor] telah meningkat hingga hampir 1 juta yen. Kami tidak bisa bersaing dengan harga 350.000 yen," lanjutnya.