Tegaskan Inggris Tidak akan Terseret Konflik Iran, PM Starmer: Bukan Perang Kita
JAKARTA - Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan Inggris tidak akan terlibat dalam konflik yang sedang berlangsung yang melibatkan Iran, menekankan situasi tersebut "bukan perang kita," menurut Mirror UK.
PM Starmer disebut menekankan, posisi pemerintahannya tetap jelas, meskipun ketegangan regional meningkat.
"Sangat penting bagi saya untuk menegaskan kembali di mana saya dan di mana pemerintah ini berdiri karena ini bukan perang kita. Dan kita tidak akan terseret ke dalamnya," katanya seperti melansir Al Arabiya (30/3).
PM Starmer melanjutkan, meskipun akan bertindak untuk melindungi warga negaranya dan kepentingan strategisnya, Inggris akan menghindari keterlibatan langsung dalam konflik tersebut.
"Ya, tentu saja kami akan membela nyawa dan kepentingan Inggris di kawasan itu, kami akan mendukung sekutu kami di kawasan Teluk," jelasnya.
Perdana Menteri Inggris menggarisbawahi, pendiriannya berakar pada prinsip, mengatakan pemerintah akan mempertahankan posisinya terlepas dari tekanan eksternal.
"Tapi kami tidak akan terseret ke dalamnya. Itu nilai-nilai saya, itu prinsip-prinsip saya, dan itulah yang telah kami terapkan pada keputusan kami, apa pun tekanannya dan dari siapa pun itu berasal," tegas PM Starmer.
Pernyataan PM Starmer muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional atas meluasnya konflik dan potensi eskalasi regional lebih lanjut.
Baca juga:
- Presiden Trump Klaim Iran Kirim 20 Kapal Tanker ke AS
- Australia Tuntut Kejelasan Tujuan Perang di Iran dari Presiden Trump dan Inginkan Deeskalasi
- IAEA Sebut Pabrik Air Berat Iran yang Terkena Serangan Israel Sudah Tidak Beroperasi Lagi
- Presiden Trump Mengatakan Kesepakatan dengan Iran Mungkin akan Segera Tercapai
Diketahui, AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, memicu ketegangan di Timur Tengah.
Sebagai respons, Negeri Para Mullah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, bersama dengan Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan, termasuk pengendalian ketat Selat Hormuz yang vital lantaran dilalui 20 persen minyak mentah dan gas alam cair dunia.