Bukan Sekadar Tren, Kain Halal Bisa Jadi Peluang Baru di Industri Fesyen
JAKARTA - Konsep kain halal di Indonesia mulai mendapat perhatian seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk yang tidak hanya modis, tetapi juga sesuai dengan nilai agama dan etika.
Secara umum, kain halal merujuk pada tekstil yang bebas dari bahan non-halal serta diproses dengan cara yang bersih dan bertanggung jawab. Tidak hanya itu, konsep ini juga kerap dikaitkan dengan prinsip thayyib, yakni baik dan aman, termasuk penggunaan bahan ramah lingkungan seperti katun atau serat alami lainnya.
Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Poppy Dharsono, mengungkapkan gagasan kain halal telah diperkenalkan ke panggung internasional dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, karya berbasis konsep ini pernah ditampilkan di kota-kota mode dunia seperti London, Milan, dan Paris.
"Dua tahun lalu kami membawa konsep kain halal ke London, Milan, dan Paris. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar dan mayoritas Muslim, ini menjadi potensi besar jika kita bisa mengembangkannya,” ujar Poppy dalam closing ceremony Ramadan Runway 2026 di Kota Kasablanka, Jakarta, baru-baru ini.
Kain halal pada umumnya merujuk pada tekstil yang tidak menggunakan bahan-bahan non-halal, seperti turunan hewani yang dilarang atau material dengan sumber yang tidak jelas.
Seluruh proses produksinya dilakukan secara bersih dan etis, mulai dari penggunaan zat pewarna, proses finishing, hingga bahan perekat yang dipastikan bebas dari unsur haram.
Lebih jauh, konsep kain halal juga kerap dikaitkan dengan aspek keberlanjutan, misalnya melalui pemanfaatan bahan alami seperti katun, linen, atau serat bambu, serta upaya daur ulang limbah tekstil agar lebih ramah lingkungan.
Menurut Poppy, dengan populasi Muslim yang sangat besar, Indonesia memiliki pasar potensial untuk produk fesyen berbasis nilai halal. Kain halal ini pun bisa sangat relevan di pasar tekstil atau fesyen.
"Kain halal juga bisa berarti eco-friendly fabrics. Misalnya dari kapas yang biasanya terbuang, kemudian diolah kembali menjadi benang,” jelasnya.
Upaya memperkenalkan konsep ini ke pasar global pun menunjukkan respons yang cukup positif. Poppy menyebut, presentasi kain halal di London saja mampu menjangkau jutaan pasang mata, menunjukkan bahwa pasar internasional mulai terbuka terhadap inovasi berbasis nilai seperti ini.
Keberadaan label halal juga memberikan rasa aman bagi konsumen Muslim, terutama untuk kebutuhan ibadah seperti haji dan umrah. Hal ini dinilai menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki oleh banyak produk fesyen global.
Lebih jauh, Poppy menekankan fesyen muslim bukan sekadar soal tren, melainkan memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi. Menurutnya, pasar dalam negeri yang besar seharusnya bisa dimaksimalkan oleh pelaku industri lokal.
"Busana muslim bukan cuma masalah tren, tapi juga ekonomi. Kita harus bisa menjadi tuan rumah di pasar sendiri,” tegasnya.
Baca juga:
Di tengah maraknya dominasi fast fashion yang sulit ditandingi, ia mendorong desainer fesyen lokal untuk mencari pendekatan berbeda, salah satunya dengan memperkuat identitas budaya dan nilai halal dalam setiap karya.
Melalui berbagai inisiatif seperti Ramadan Runway, APPMI berupaya memperkuat kolaborasi dan solidaritas antar pelaku industri fesyen muslim. Dengan jaringan yang kini mencakup 21 cabang dan sekitar 400 desainer, ekosistem ini diharapkan mampu memberikan dampak luas bagi perkembangan industri fesyen nasional.
"Ini pasar kita sendiri. Kita harus mampu menciptakan desain yang berakar pada budaya dan memiliki nilai halal bagi masyarakat,” tambahnya.
Ke depannya, Poppy optimistis industri modest fashion Indonesia akan terus berkembang, terutama dengan dukungan kolaborasi antara pelaku industri dan ruang-ruang kreatif seperti pusat perbelanjaan yang menjadi wadah bertemunya desainer dan konsumen.