China Buka Fasilitas Riset ke Dunia, Dorong Sains Terbuka dan AI

JAKARTA - China mulai membuka sebagian proyek sains besar dan fasilitas riset utamanya untuk peneliti global di tengah persaingan teknologi yang makin ketat. China Daily dikutip Kamis, 26 Maret melaporkan, langkah ini dipakai Beijing untuk mendorong kerja sama sains terbuka sekaligus membangun “komunitas teknologi global” yang lebih terbuka dan inklusif.

Kebijakan itu diumumkan saat pembukaan Forum Zhongguancun di Beijing, Rabu, 25 Maret. Wakil Perdana Menteri Ding Xuexiang mengatakan China siap memperluas kerja sama teknologi, memperkuat riset dasar dan riset terdepan, serta mendorong pemanfaatan teknologi baru untuk mendukung pembangunan ekonomi dan sosial berbagai negara.

Di saat yang sama, Ding juga menyoroti sisi lain yang tak ringan. Ia meminta negara-negara menangani potensi benturan regulasi, risiko sosial, dan tantangan etika yang muncul dari perkembangan teknologi agar tata kelola teknologi berjalan lebih adil dan bertanggung jawab.

Pada hari pembukaan forum, China merilis rencana aksi kerja sama internasional dalam sains terbuka. Isinya, Beijing akan membuka akses bagi peneliti dunia ke 10 proyek dan fasilitas besar, termasuk sistem pemantauan antariksa, observatorium partikel, dan perangkat fusi. Salah satunya adalah Proyek Meridian China, fasilitas nasional pemantauan lingkungan antariksa yang disebut telah membangun jaringan darat terluas di dunia dan sejauh ini melayani 267 organisasi dari 18 negara, termasuk Jerman dan Brasil.

Forum Zhongguancun tahun ini diikuti ribuan peserta dari lebih dari 100 negara dan kawasan. Di forum itu, China juga menegaskan langkahnya di bidang kecerdasan buatan. Menurut laporan itu, Beijing tak hanya memperluas penggunaan AI, tetapi juga ikut mendorong bagaimana model AI dibangun, dibagikan, dan diterapkan di sektor industri.

Pendiri Moonshot AI, Yang Zhilin, mengatakan perusahaan-perusahaan China kini makin menempatkan diri sebagai penggerak perubahan dalam ekosistem AI. Ia menilai keterbukaan China dalam membagikan model besar dan terobosan teknologi bisa mempercepat inovasi global sekaligus memberi keunggulan dalam persaingan teknologi.

“Kesediaan China untuk secara terbuka membagikan model besar dan terobosan teknologi dapat mempercepat inovasi global sekaligus memberi keunggulan dibanding ekosistem teknologi tertutup di negara lain,” kata Yang seperti dikutip dari China Daily.

Ia juga menyinggung pentingnya “pabrik token”, yakni gabungan pusat data, cip, dan sistem AI yang dirancang untuk memproses data dalam jumlah sangat besar. Infrastruktur ini menjadi penopang utama pengembangan AI skala besar. Menurut Yang, pada tahap baru pengembangan AI, biaya energi dan infrastruktur komputasi akan menjadi faktor penentu. “Dalam jangka panjang, hambatannya mungkin bukan lagi kemampuan model, tetapi seberapa cepat seseorang dapat membangun ‘pabrik token’ berskala besar,” ujarnya

Data OpenRouter menunjukkan model AI China melampaui model AI Amerika Serikat dalam penggunaan global selama tiga pekan berturut-turut. Pekan lalu, model China mencatat 7,359 triliun token, naik 56,9 persen dibanding pekan sebelumnya. Model AI AS tercatat 3,536 triliun token.

Wakil Direktur Jenderal WIPO Wang Binying mengatakan China menjadi negara pertama yang melampaui 5 juta paten penemuan domestik yang diberikan. China juga menyumbang lebih dari 40 persen pengajuan paten AI generatif global.