Soal Speaker Masjid Viral, Hanung Bramantyo Buka Suara
JAKARTA - Di balik kesuksesan penyelenggaraan Salat Id di lapangan, Hanung Bramantyo menyimpan misi dakwah yang lebih dalam mengenai agama Islam di Indonesia. Hanung menekankan bahwa masjid dan seluruh atributnya harus menjadi rahmat bagi semua orang tanpa terkecuali.
Terkait keputusannya memindahkan atau mengatur pengeras suara (speaker) masjid yang sempat viral, Hanung memiliki alasan yang fundamental.
"Itu adalah bagian dari ijtihad kami ketika kami membuat masjid. Masjid itu harus merahmati siapapun tidak hanya orang Islam, tapi juga siapapun," tegas Hanung di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu, 21 Maret.
Ia berpendapat bahwa kemanusiaan adalah jembatan utama ketika terdapat perbedaan keyakinan di tengah masyarakat.
"Kalau saya menganggap orang non-muslim, saya kayaknya udah ada sekat. Tapi masjid itu adalah tempat di mana kita bisa membantu dalam hal kemanusiaan. Kalau kita tidak bisa bersama-sama dalam beribadah, maka kita harus bersama-sama dalam kemanusiaan," lanjutnya.
Hanung juga menyoroti sensitivitas penggunaan pengeras suara yang menurutnya harus ditempatkan sesuai porsinya.
"Speaker masjid itu memang hal yang paling sensitif sekarang ini, tidak hanya untuk yang bukan beragama Islam, yang beragama Islam itu kadang-kadang juga merasa peka karena speaker tidak digunakan pada tempat dan waktunya," kritik Hanung.
Menurutnya, pengeras suara luar seharusnya hanya difokuskan untuk panggilan ibadah atau azan saja.
"Contoh speaker itu hanya untuk azan. Dan azan itu berhenti jam 7 (malam), nggak ada azan jam 12 malam. Jadi kalau ada yang terganggu jam 7 ya berarti orang itu yang bermasalah," tambahnya.
Ia juga mempertanyakan urgensi penggunaan pengeras suara luar untuk kegiatan tadarus atau kajian yang berdurasi lama.
"Tiba-tiba tadarus, kajian, terus kemudian pakai speaker tujuannya buat apa? Emangnya dengan adanya kajian pakai speaker terus orang-orang berbondong-bondong akan masuk Islam? Nggak ada dalam sejarahnya," ujar Hanung dengan lugas.
Bagi Hanung, daya tarik Islam seharusnya terpancar dari perilaku pemeluknya, bukan dari volume suara pengeras masjid.
"Nggak ada yang namanya orang hijrah masuk Islam itu gara-gara speaker. Tapi gara-gara kesantunan kita, gara-gara perhatian kita kepada umat manusia," tegas suami Zaskia Adya Mecca ini.
Ia tidak mempermasalahkan jika ada pihak yang merasa terganggu dengan opininya, karena baginya ini adalah bentuk edukasi.
"Mohon buat yang terganggu dengan postingan saya, karena saya sebetulnya mengembalikan marwah dari masjid yaitu untuk kemanusiaan, untuk menunjukkan bahwa Islam adalah Rahmatan lil 'Alamin," katanya.
Baca juga:
Selain soal teknis masjid, Hanung juga menyelipkan pesan geopolitik global dalam ceramah Salat Id yang digelarnya.
"Saya kepingin jamaah memahami betul konteks geopolitik yang ada di dunia internasional. Jadi tidak hanya berbicara tentang ayat-ayat yang template saja kalau sudah lebaran," jelas Hanung.
Ia ingin jamaah membuka mata terhadap apa yang terjadi di Palestina hingga potensi perpecahan umat akibat konflik regional.
"Bagaimana saudara-saudara kita di sana, bagaimana peperangan antara Iran dan Israel ini hampir memecah belah umat Islam. Kita kepingin menunjukkan Islam itu kompak, santun, intelek, dan inklusif," tutupnya.