Mendiktisaintek Siapkan Kajian Kilat, Motor hingga Kompor Listrik Masuk Skema Hemat Energi

JAKARTA - Pemerintah mulai mendorong langkah cepat untuk menekan konsumsi energi berbasis impor. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkapkan, kampus diminta langsung bergerak mencari cara penghematan, dari kendaraan listrik sampai kompor listrik.

Di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 19 Maret, Brian mengatakan Presiden meminta perguruan tinggi segera mengkaji langkah konkret yang bisa menekan penggunaan BBM, baik bensin, solar, gas, hingga LPG rumah tangga.

“Karena harga bahan bakar, harga minyak dunia masih tinggi, kita tidak boleh lengah,” kata Brian.

Kajian itu diminta berjalan cepat. Saat ini, tim dari berbagai kampus—baik negeri maupun swasta—sudah mulai bekerja. Targetnya, hasil kajian bisa diserahkan dalam waktu dekat, paling lambat April.

Fokus yang dikaji ada tiga. Pertama, mempercepat penggunaan kendaraan listrik, terutama motor dan kendaraan kecil, untuk menekan impor BBM. Kedua, mengganti pembangkit listrik berbasis diesel dengan energi terbarukan seperti PLTS. Presiden bahkan disebut meminta ketergantungan pada PLTD dihentikan karena mahal dan tidak ramah lingkungan.

Ketiga, kompor listrik juga ikut masuk dalam kajian sebagai alternatif pengganti LPG.

“Jadi kendaraan listrik, pembangkit dari diesel, dan kompor listrik, semua kita diminta kaji,” ujar Brian.

Soal besaran penghematan, Brian belum memberi angka pasti. Namun ia menyinggung, penggantian diesel saja diperkirakan bisa menghemat sekitar Rp25 triliun dari sisi BBM. Angka itu belum termasuk jika kendaraan listrik dan kompor listrik benar-benar diterapkan.