Sejarah Iran Ternyata Tidak Sesederhana Itu, Ini Fakta yang Perlu Anda Tahu

YOGYAKARTA - Serangan Amerika dan Israel ke Iran kembali menempatkan Timur Tengah ke pusat perhatian dunia. Banyak orang menjadi sejarah Iran, ketika rudal dan drone melintas di langit Teheran yang memicu ketegangan geopolitik.

Bagi banyak orang Barat, nama Persia kembali disebut. Namun bagi rakyatnya, tanah itu selalu bernama Iran. Sebuah identitas yang berakar jauh sebelum geopolitik modern terbentuk.

Dilansir VOI dari laman The Daily Star dan Grey Art Museum, berikut ini beberapa fakta menarik tentang Iran yang perlu Anda ketahui:

Sejarah Iran: Dari Persia, Nama yang Sarat Makna

Istilah Persia berasal dari kata Yunani Persís, yang merujuk pada wilayah Parsa di barat daya Iran. Wilayah ini adalah pusat Kekaisaran Achaemenid yang didirikan oleh Cyrus the Great.

Bagi dunia klasik, Persia adalah simbol kekaisaran besar yang membentang dari Sungai Indus hingga Laut Aegea. Namun itu adalah sebutan dari luar.

Bagi penduduk Iran, mereka akan menyebut tanah “Iran” atau “Eran”, yang berasal dari kata Arya yang berarti “bangsa mulia”. Nama itu hidup dalam prasasti dan gelar kerajaan selama berabad-abad, termasuk pada era Sassaniyah dan Safawi.

Barulah perubahan resmi terjadi pada 1935. Di bawah pemerintahan Reza Shah Pahlavi, pemerintah meminta dunia internasional menggunakan nama Iran dalam hubungan diplomatik. Itu bukan sekadar pergantian istilah, namun pernyataan kedaulatan.

Baca juga artikel Bagaimana Pergantian Rezim di Iran Setelah Ali Khamenei Tiada?

Iran Modern dan Luka Intervensi Asing

Memahami konflik hari ini tak bisa dilepaskan dari sejarah abad ke-20. Iran pernah menjadi ajang perebutan pengaruh Rusia dan Inggris dalam “Great Game”. Pada 1907, kedua kekuatan itu membagi wilayah pengaruh di Iran.

Di dalam negeri, rakyat menuntut konstitusi. Revolusi Konstitusional 1905–1911 melahirkan parlemen pertama. Harapan tumbuh. Namun intervensi asing kembali mematahkan semangat itu.

Pada 1925, Dinasti Qajar runtuh dan Reza Shah mendirikan Dinasti Pahlavi. Modernisasi dilakukan. Rel kereta Trans-Iran dibangun, dan Universitas Teheran berdiri pada 1934.

Tetapi kekuasaan juga dipusatkan.

Setelah Perang Dunia II, putranya, Mohammad Reza Pahlavi, naik takhta. Pada 1951, Perdana Menteri Mohammad Mossadeq menasionalisasi industri minyak Iran.

Langkah itu populer di dalam negeri. Namun pada 1953, operasi rahasia CIA dan MI6 telah menggulingkannya.

Bagi banyak warga Iran, itu adalah luka sejarah. Campur tangan asing kembali menghentikan proses demokrasi.

Revolusi 1979 dan Identitas Baru

Gelombang protes memuncak pada akhir 1970-an. Ketimpangan ekonomi, represi politik, dan ketidakpuasan terhadap monarki memperbesar kemarahan publik.

Pada Januari 1979, Shah meninggalkan Iran. Beberapa minggu kemudian, Ruhollah Khomeini kembali dari pengasingan. Republik Islam Iran lahir.

Sejak saat itu, hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memburuk drastis. Sanksi ekonomi, ketegangan nuklir, dan konflik proksi mewarnai dekade-dekade berikutnya.

Serangan 2026: Babak Baru Ketegangan

Kini, pada 2026, serangan Amerika dan Israel ke Iran membuka babak baru. Operasi militer yang disebut “Operation Epic Fury” memicu balasan rudal dan drone dari Teheran.

Ibu kota Iran, Teheran tegang. Kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang eskalasi luas.

Sebagian analis melihat ini sebagai lanjutan rivalitas geopolitik lama. Sebagian lain menilai ini sebagai konsekuensi dari dinamika regional yang semakin kompleks.

Namun satu hal jelas: Iran bukan sekadar headline perang. Ia adalah peradaban panjang yang pernah disebut Persia, dengan memori kolektif tentang intervensi asing, revolusi, dan perjuangan kedaulatan.

Persia adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Iran yang panjang. Iran, bukan pada perubahan nama, melainkan sebuah identitas yang terus teruji antar zaman hingga konflik modern.