Dokter Ungkap Cara Mempercepat Penyembuhan Super Flu

JAKARTA - Kasus varian baru influenza A (H3N2) subclade K atau kerap disebut dengan super flu kini melonjak di Amerika Serikat, dan sudah dialami juga di berbagai negara lainnya. Proses pemulihan virus ini lebih lama, sehingga kasusnya masih terus tinggi.

Hal tersebut karena virus ini memiliki kemampuan menembus sistem kekebalan tubuh dari vaksin atau infeksi sebelumnya. Tubuh membutuhkan waktu untuk merespons peradangan akibat infeksi virus tersebut.

“Setelah influenza menyerang, virus ini bisa bertahan lebih lama daripada penyakit akutnya. Tubuh tetap merespons dengan peradangan, yang bisa membuat Anda masih merasa tidak nyaman meski demam sudah mereda,” kata spesialis penyakit menular, Dr. William Schaffner, dikutip dari Self Magazine, dikutip Kamis, 8 Januari 2026.

Orang yang terkena super flu tidak hanya mengalami gejala demam, batuk, dan sakit tenggorokan, tetapi juga meninggalkan kelelahan berkepanjangan. Rasa tidak enak badan atau tidak nyaman juga akan bertahan selama satu minggu atau lebih.

Namun, meskipun tidak ada obat instan untuk super flu, terdapat beberapa cara untuk mempercepat proses penyembuhannya. Salah satunya adalah dengan menggunakan obat antiviral, seperti oseltamivir (Tamiflu) atau baloxavir marboxil (Xofluza).

“Jika antiviral digunakan sejak awal, tingkat keparahan penyakit dapat berkurang,” tambahnya.

Minum cukup air juga sangat penting, karena air putih bisa meminimalisir risiko pneumonia dan menjaga selaput lendir tetap lembap sehingga pernapasan lebih nyaman.

Tubuh juga harus diberikan istirahat yang cukup, terutama dengan tidur berkualitas yang memberi tubuh kesempatan optimal untuk memperbaiki diri. Waspadai juga risiko komplikasi, di mana jika gejala tidak membaik atau malah memburuk lebih dari seminggu, maka segera periksakan diri ke dokter.

“Jika Anda merasa mulai membaik, meskipun lebih lambat dari harapan, tetaplah bersabar. Flu adalah penyakit serius, dan tubuh butuh waktu untuk pulih sepenuhnya,” pungkas senior scholar di Johns Hopkins Center for Health Security, Dr. Amesh A. Adalja.